Ekonomi & Bisnis

Inflasi Aceh Tembus 5,03 Persen, Cabai Merah Pemicu

Raudhatul
×

Inflasi Aceh Tembus 5,03 Persen, Cabai Merah Pemicu

Sebarkan artikel ini
Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini (tengah) dalam kegiatan temu media di Banda Aceh, Senin, 5 Oktober 2026. [Foto: Raudhah/Byklik.com]

Byklik.com | Banda Aceh – Inflasi tahunan Provinsi Aceh pada September 2026 mencapai 5,03 persen. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,36 persen dengan sejumlah komoditas pangan menjadi penyumbang utama kenaikan harga.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh, Agus Chusaini, mengatakan cabai merah menjadi salah satu komoditas yang memberikan tekanan cukup besar terhadap inflasi September dengan andil 0,34 persen.

Selain cabai merah, daging ayam ras menyumbang inflasi sebesar 0,17 poin persentase. Sementara cabai hijau, ikan tuna, dan semangka masing-masing memberikan andil 0,02 poin persentase.

“Untuk cabai merah, Aceh Tengah sebagai salah satu daerah penghasil sekarang masih dalam masa tanam. Panen diperkirakan sekitar Oktober atau November, sehingga dampaknya terhadap pasokan baru akan terlihat kemudian,” kata Agus dalam temu media di Banda Aceh, Senin, 5 Oktober 2026.

Menurut Agus, keterbatasan pasokan cabai merah tidak hanya terjadi di Aceh. Kondisi cuaca dan fenomena El Nino di sejumlah wilayah Sumatera turut memengaruhi daerah-daerah sentra produksi.

Baca Juga  Temui Hashim di Jakarta, Gubernur Mualem Sampaikan Pentingnya Reaktivasi Pabrik Kertas Aceh

Gangguan cuaca berpotensi menekan produksi cabai sehingga pasokannya di pasar berkurang. Ketika pasokan menurun sementara permintaan masyarakat tetap tinggi, harga cabai ikut terdorong naik.

Tekanan inflasi juga berasal dari komoditas daging ayam ras. Kenaikan harga ayam antara lain dipengaruhi meningkatnya biaya pakan yang kemudian berdampak terhadap harga jual kepada konsumen.

Agus mengatakan harga ayam sebelumnya sempat turun ketika permintaan masyarakat melemah. Namun, permintaan kembali meningkat seiring berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga turut memengaruhi pergerakan harga.

Di sisi lain, harga beras mulai menunjukkan penurunan seiring masuknya masa panen kedua. Kondisi tersebut meningkatkan ketersediaan beras di pasaran.

“Beras mulai turun karena sudah masuk panen kedua. Harapannya harga beras tetap stabil karena ini kebutuhan utama masyarakat,” ujarnya.

Selain komoditas pangan, tekanan inflasi Aceh juga dipengaruhi sektor transportasi udara yang mulai mengalami pemulihan aktivitas.

Kenaikan harga emas turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Agus menyebut kondisi global dan perkembangan geopolitik mendorong masyarakat menjadikan emas sebagai salah satu pilihan untuk menyimpan nilai aset.

Baca Juga  Harga BBM Oktober: Dexlite dan Pertamina Dex Naik, Pertalite Tetap Rp10 Ribu

Pada kelompok makanan, kenaikan harga bahan baku juga berdampak terhadap harga makanan siap santap. Daging ayam dan sejumlah komoditas pangan lainnya menjadi bahan baku yang mengalami perubahan harga sehingga turut memengaruhi harga makanan yang dikonsumsi masyarakat.

BI meminta komoditas pangan strategis terus dipantau, terutama cabai merah, beras, bawang merah, minyak goreng, telur, ikan, dan daging. Komoditas tersebut dinilai sensitif terhadap perubahan pasokan dan distribusi.

Untuk mengantisipasi keterbatasan cabai merah segar, masyarakat juga dapat menggunakan cabai kering sebagai alternatif konsumsi ketika harga cabai segar mengalami kenaikan.

Agus mengatakan BI bersama pemerintah daerah terus melakukan berbagai langkah pengendalian inflasi melalui pemantauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, serta menjaga kelancaran distribusi bahan pangan.

“Pengendalian pada sisi pasokan dan distribusi menjadi penting agar perubahan harga komoditas pangan tidak memberikan tekanan yang lebih besar terhadap inflasi Aceh,” kata Agus.