Byklik.com | Bekasi – Anggota Komisi V DPR RI Ghufran Zainal Abidin menyoroti dugaan kekerasan terhadap taruna di lingkungan sekolah vokasi Kementerian Perhubungan, menyusul meninggalnya seorang taruna Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati, Aceh.
Ghufran mengatakan kasus tersebut masih menunggu hasil investigasi pihak berwenang dan kepolisian. Namun, ia menilai dugaan kekerasan terhadap taruna perlu menjadi perhatian serius agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Memang masih menunggu investigasi dari pihak berwenang dan kepolisian, tapi yang kita sedihkan adalah anak-anak kita ini jadi korban. Ini juga belum lama terjadi, kasus serupa juga terjadi di sekolah udara kita,” ujar Ghufran kepada Parlementaria di Bekasi, Jawa Barat, Jumat, 2 Oktober 2026.
Menurut Ghufran, sekitar 10 hari sebelumnya, atau 21 September 2026, pihaknya telah meminta konfirmasi terkait meninggalnya seorang taruna di sekolah penerbangan di bawah Kementerian Perhubungan.
Kasus tersebut awalnya diduga berkaitan dengan sakit. Namun, informasi yang berkembang kemudian mengarah pada dugaan kekerasan dan proses investigasinya hingga kini belum tuntas.
Ghufran juga mempertanyakan kasus kekerasan di lingkungan Politeknik Transportasi Darat Indonesia-Sekolah Tinggi Transportasi Darat (PTDI-STTD). Dalam pertemuan tersebut, Direktur PTDI-STTD menyampaikan bahwa kekerasan, perundungan, dan asusila termasuk kategori pelanggaran khusus.
Direktur PTDI-STTD juga mengakui pernah terjadi kasus kekerasan pada 2024. Kasus tersebut kemudian diproses secara hukum hingga putusan kasasi pada Mei 2026, yang disebut memenangkan pihak kampus.
Ghufran mengatakan setelah kasus tersebut, pihak kampus tidak lagi menerima keluhan dari orang tua taruna terkait dugaan perundungan maupun kekerasan.
Meski demikian, ia mengingatkan pengelola sekolah vokasi agar tidak hanya berfokus pada pembangunan sarana dan pengajuan tambahan anggaran. Menurutnya, pola pendidikan, pembinaan, dan pengawasan terhadap hubungan senior dan junior juga harus mendapat perhatian.
“Jangan sampai bangunan dan sarana pendidikan kita megah, mewah, bahkan kita minta tambahan anggaran, tapi anak-anak kita ini bermasalah pola pendidikan dan pengawasannya,” tegasnya.
Ghufran menilai budaya perpeloncoan antara taruna senior dan junior berisiko menjadi siklus apabila tidak dihentikan. Karena itu, ia mendorong adanya pengawasan yang lebih kuat di lingkungan sekolah vokasi Kementerian Perhubungan.
Terkait kasus di Poltekpel Malahayati, Ghufran menyebut orang tua korban awalnya mendapat informasi bahwa anaknya mengalami demam. Namun, setelah meninggal, keluarga disebut menemukan sejumlah bekas kekerasan fisik pada tubuh korban.
Ia mengatakan sejak kasus tersebut mencuat, pihaknya telah berkoordinasi dengan ketua pengawas dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Perhubungan. Namun, perkembangan investigasi dugaan kekerasan tersebut belum disampaikan secara terbuka kepada publik.
Di hadapan taruna PTDI-STTD, Ghufran juga mengingatkan agar taruna yang pernah mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari senior tidak menyimpan dendam dan kemudian melampiaskannya kepada junior.
“Kita semua disiplin, tapi jangan sampai menjadikan anak-anak kita mentalnya ikut melampiaskan kepada adik-adik yang berikutnya. Ini bahaya sekali,” pungkasnya.
Selain pengawasan, Ghufran mendorong sekolah vokasi di bawah Kementerian Perhubungan memperkuat pembinaan mental dan spiritual para taruna. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kekerasan menjadi budaya yang diwariskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya.











