Byklik.com | Lhokseumawe – Sebanyak 50 perempuan dari empat kecamatan di Kota Lhokseumawe mengikuti Pelatihan Kerajinan Tudung Saji Tahun 2026 yang diinisiasi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Lhokseumawe.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua Dekranasda Kota Lhokseumawe, Yulinda Sayuti, di Lembaga Latansa Komputer Cunda, Kecamatan Muara Dua, Selasa, 15 September 2026.
Pelatihan tersebut dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kota Lhokseumawe, bertujuan meningkatkan keterampilan dan kreativitas peserta dalam membuat tudung saji serta mendorong pengembangan kerajinan lokal.
Pelatihan tersebut juga menjadi bagian dari upaya melestarikan tudung saji sebagai kerajinan tradisional yang memiliki nilai budaya dan kearifan lokal.
Yulinda Dorong Pelestarian dan Inovasi
Ketua Dekranasda Kota Lhokseumawe, Yulinda Sayuti, mengatakan tudung saji memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari sekaligus nilai budaya. Kerajinan tersebut juga berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
“Teruslah berlatih, berkreasi, dan berinovasi. Kembangkan kerajinan tudung saji menjadi produk yang memiliki ciri khas, berkualitas, dan bernilai ekonomi, tanpa meninggalkan budaya dan kearifan lokal. Saya berharap keterampilan ini terus dikembangkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Disperindagkop dan UKM Dorong Pengembangan Usaha
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Disperindagkop dan UKM Kota Lhokseumawe, Nelvia Surimeina, mengatakan pelatihan tersebut merupakan salah satu upaya meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus mengembangkan kerajinan lokal.
“Melalui pelatihan ini, kami ingin peserta tidak hanya mampu membuat tudung saji, tetapi juga memahami bagaimana mengembangkan keterampilan tersebut menjadi produk kerajinan yang lebih kreatif, berkualitas, dan memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.
Nelvia berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat terus dipraktikkan setelah pelatihan berakhir.
“Keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Kami mendorong peserta untuk terus berlatih, mengembangkan desain dan kualitas produk, serta melihat peluang kerajinan ini sebagai bagian dari pengembangan usaha,” katanya.
Pelatihan tersebut diharapkan dapat mendukung pelestarian tudung saji sekaligus membuka ruang bagi pengembangan kerajinan lokal dan ekonomi kreatif masyarakat di Kota Lhokseumawe.***











