Ekonomi & Bisnis

Badabida, Lulur Ketan Hitam dalam Tradisi Perempuan Kaili

Bambang Iskandar Martin
×

Badabida, Lulur Ketan Hitam dalam Tradisi Perempuan Kaili

Sebarkan artikel ini
Ketan Hitam. (Foto: Healthandme)

Byklik.com | Sigi – Perempuan Kaili di Sulawesi Tengah mengenal badabida, lulur berbahan ketan hitam yang digunakan dalam rangkaian perawatan calon pengantin pada tradisi nombungu.

Pengetahuan mengenai lulur tersebut masih dipraktikkan dan dikembangkan oleh Nelam Ayu Kusuma melalui usaha Nelamayu Tradisional di Kabupaten Sigi.

Nelam mengatakan badabida merupakan bagian dari tradisi perawatan calon pengantin yang dikenal di keluarganya dan diwariskan dari generasi ke generasi.

“Dulu badabida dipakai calon pengantin. Wajahnya ditutup dengan lulur dari ketan hitam. Itu tradisi lama perempuan Kaili,” ujar Nelam, Kamis, 10 September 2026.

Menurut Nelam, badabida dahulu dibuat dalam bentuk bedak atau masker sederhana. Dalam perkembangannya, ia mengolahnya menjadi body scrub yang digunakan sebagai produk perawatan tubuh.

Ketan hitam yang menjadi salah satu bahan utama diperoleh dari petani di Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi. Dalam satu kali pembelian, Nelam menyebut dapat membeli hingga 25 kilogram ketan hitam.

Baca Juga  Menkes Imbau Warga Waspada Asap Karhutla Berbahaya

Dalam proses produksi, beberapa bahan sisa juga dimanfaatkan kembali. Dedak hasil penggilingan beras digunakan sebagai pakan ternak atau disalurkan kepada petani. Abu dari proses sangrai digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Selain badabida, Nelam mempelajari bada kumba, yaitu bedak dingin berbahan beras dan rempah yang resepnya diwariskan oleh neneknya.

Resep tersebut, menurut Nelam, telah digunakan dalam keluarganya secara turun-temurun. Pengetahuan itu kemudian menjadi bagian dari usaha Nelamayu Tradisional yang didirikan pada 2018.

Dalam pengembangan usahanya, Nelamayu Tradisional juga mengikuti program pendampingan Gampiri Interaksi Lestari pada 2023. Pendampingan berlangsung selama enam bulan dan mencakup pengembangan produk, penguatan usaha, perizinan, pemasaran, serta akses pasar.

Perwakilan Gampiri Interaksi Lestari, Nedya Sinintha Maulaning, mengatakan pendampingan tersebut salah satunya berkaitan dengan pengembangan produk berbasis sumber daya alam.

Baca Juga  Bhayangkara Fest 2026 Ditutup, Sedot 80 Ribu Pengunjung, Putaran Ekonomi

“Pendampingan kami fokus pada hilirisasi berbasis alam. Kami ingin produk seperti Nelamayu Tradisional dapat tumbuh secara ekonomi tanpa kehilangan nilai budaya dan lingkungannya,” ujar Nedya.

Pengembangan produk juga mencakup penyesuaian terhadap aspek kebersihan dan keamanan, klasifikasi produk, perizinan, serta penggunaan klaim manfaat sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi Nelam, badabida merupakan bagian dari pengetahuan tradisional yang diperoleh melalui keluarganya. Pengembangan dalam bentuk produk perawatan tubuh menjadi salah satu cara untuk mempertahankan penggunaan bahan dan resep tersebut.

Dari ketan hitam yang diperoleh dari petani setempat hingga pengolahan bahan sisa produksi, pembuatan badabida memperlihatkan keterkaitan antara pengetahuan tradisional, kegiatan usaha, dan pemanfaatan bahan di tingkat lokal.***