Uncategorized

Korban Gempa NTT Dievakuasi dengan Helikopter Polri

Avatar
×

Korban Gempa NTT Dievakuasi dengan Helikopter Polri

Sebarkan artikel ini
Proses evakuasi penyintas bernama Yohanis Riba (75) yang korban gempa M 7,7 Flores di Bandara Frans Seda, Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Minggu, 23 Agustus 2026. [Foto: BNPB]

Byklik.com | Maumere – Yohanis Riba (75), warga Desa Nitunhlea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, menjadi salah satu penyintas gempa bumi magnitudo 7,7 Flores yang berhasil diselamatkan meski mengalami luka serius setelah rumahnya roboh akibat guncangan kuat pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Kedua kaki Yohanis tertimpa material bangunan ketika dirinya berusaha menyelamatkan diri saat gempa terjadi. Sanak keluarga dan warga sekitar kemudian memberikan pertolongan dan membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

Selama beberapa hari, Yohanis menjalani perawatan. Namun, setelah pemantauan tenaga medis, kondisi luka dan memar pada kedua kakinya memerlukan penanganan lebih lanjut. Keterbatasan fasilitas kesehatan di wilayah kepulauan juga menjadi pertimbangan untuk merujuk Yohanis ke fasilitas kesehatan dengan dukungan medis yang lebih memadai.

Baca Juga  Satu Lagi Jemaah Haji Aceh asal Pidie Meninggal di Makkah

Proses evakuasi dilakukan pada Minggu, 23 Agustus 2026. Yohanis dijemput dari Pulau Palue dan dibawa menuju Rumah Sakit TC Hillers di Maumere menggunakan helikopter Polri yang disiagakan di Pos Pendamping Nasional BNPB di Bandara Frans Seda, Maumere.

Evakuasi tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari BNPB, TNI, Polri, tenaga medis, relawan hingga otoritas bandara. Sinergi tersebut dilakukan untuk memastikan proses pemindahan pasien dari wilayah kepulauan dapat berlangsung cepat dan tetap mengutamakan keselamatan.

Baca Juga  Jembatan Aramco di Uning Mas Segera Difungsikan

Setibanya di Maumere, Yohanis kemudian mendapatkan penanganan di RSUD TC Hillers. Perawatan lanjutan diharapkan dapat memberikan pemeriksaan yang lebih optimal sekaligus mendukung proses pemulihan kondisi kedua kakinya.

Evakuasi Yohanis menjadi gambaran pentingnya akses layanan kesehatan bagi penyintas bencana, khususnya masyarakat yang berada di wilayah terpencil dan kepulauan.

Dalam kondisi darurat pascagempa, kebutuhan setiap penyintas berbeda. Karena itu, dukungan lintas instansi diperlukan agar masyarakat terdampak, termasuk mereka yang berada di wilayah dengan akses transportasi terbatas, tetap mendapatkan penanganan yang cepat dan sesuai kebutuhan.