Pendidikan & KarierTeknologi & Sains

Dosen UIN Lampung Kenalkan Instrumen Kesiapan AI Guru

Avatar
×

Dosen UIN Lampung Kenalkan Instrumen Kesiapan AI Guru

Sebarkan artikel ini
Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Suherman, di University of Tartu, Estonia, Minggu, 12 Juli 2026. [Foto: Kemenag]

Byklik.com | Tartu – Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Suherman, mempresentasikan hasil pengembangan dan validasi instrumen untuk mengukur kesiapan Artificial Intelligence (AI) pada calon guru dalam Junior Researchers of EARLI (JURE) Conference 2026 yang berlangsung di University of Tartu, Estonia, Minggu, 12 Juli 2026.

Instrumen tersebut dikembangkan untuk membantu lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) memetakan kesiapan calon guru dalam memanfaatkan teknologi AI secara efektif, bertanggung jawab, dan beretika dalam proses pembelajaran.

Penelitian bertajuk AI Readiness Assessment for Pre-Service Teacher Education: Development and Validation dipresentasikan Suherman dalam sesi parallel paper. Riset tersebut berfokus pada penyusunan instrumen yang mampu mengukur pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri mahasiswa calon guru dalam mengintegrasikan AI ke dunia pendidikan.

Pengembangan instrumen melibatkan 297 mahasiswa calon guru di Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan metode Rasch Modeling untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen, kesesuaian setiap butir pertanyaan, potensi bias, serta fungsi skala Likert yang digunakan.

“Hasil analisis menunjukkan bahwa instrumen yang dikembangkan memenuhi kriteria kesesuaian butir dan unidimensionalitas. Instrumen tersebut juga menunjukkan kualitas psikometrik yang mendukung penggunaannya untuk mengukur kesiapan AI pada kelompok responden yang diteliti,” ujar Suherman.

Baca Juga  Kemkomdigi dan JICA Perkuat Talenta AI untuk Dukung Prioritas Nasional

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar mahasiswa calon guru yang menjadi responden berada pada kategori kesiapan AI tinggi hingga sangat tinggi. Penelitian juga menemukan bahwa perbedaan tingkat kesiapan berdasarkan gender relatif kecil.

Menurut Suherman, instrumen tersebut dapat dimanfaatkan oleh LPTK sebagai bahan evaluasi untuk memetakan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi pemanfaatan AI di bidang pendidikan. Hasil pemetaan itu dapat menjadi dasar dalam mengidentifikasi aspek pengetahuan, keterampilan, maupun kepercayaan diri yang masih perlu diperkuat.

“Pemanfaatannya juga dapat membantu lembaga pendidikan menyusun program pengembangan kompetensi yang lebih sesuai dengan kebutuhan calon guru. Hal ini mencakup kemampuan menggunakan teknologi AI dalam pembelajaran sekaligus memahami aspek tanggung jawab dan etika yang menyertai penggunaannya,” jelasnya.

Penelitian yang dipresentasikan pada JURE Conference 2026 merupakan bagian dari riset yang didukung Program Pendanaan Riset Indonesia Bangkit Kementerian Agama atau Ministry of Religious Affairs the Awakening Indonesian Research Funds (MoRA The AIR Funds). Riset tersebut dipimpin oleh Nanang Supriadi sebagai ketua peneliti.

Baca Juga  Kemenag Siapkan 1.900 Beasiswa Dosen 2026

Dukungan pendanaan diberikan untuk mendorong riset pengembangan pendidikan pada era kecerdasan artifisial. Dalam penelitian ini, pendanaan dimanfaatkan untuk menghasilkan perangkat pengukuran yang mampu memberikan gambaran mengenai kesiapan calon guru menghadapi perkembangan teknologi AI.

JURE Conference 2026 berlangsung pada 6–10 Juli 2026 mengusung tema Learning in Transition: Science, Society and the Challenges of Tomorrow. Konferensi tahunan yang diselenggarakan European Association for Research on Learning and Instruction (EARLI) itu diikuti ratusan peserta dari lebih dari 40 negara.

Berbagai isu strategis dibahas dalam forum tersebut, mulai dari kecerdasan artifisial, asesmen pembelajaran, teknologi pendidikan, pengembangan profesional guru, hingga tantangan perubahan dunia pendidikan di masa depan. Selain presentasi makalah, konferensi juga menghadirkan sesi poster, diskusi meja bundar, simposium, dan kuliah utama dari para pakar pendidikan internasional.

Melalui penelitian ini, pengembangan instrumen kesiapan AI diharapkan menjadi salah satu acuan bagi lembaga pendidikan dalam merancang strategi penguatan kompetensi calon guru agar mampu memanfaatkan teknologi AI secara optimal, bertanggung jawab, dan sesuai dengan tuntutan pembelajaran masa depan.