“Menulis adalah keabadian. Siapa yang menulis maka ia akan abadi.”
Kalimat itu bukan sekadar kutipan bagi Nanda Rezeki. Prinsip itulah yang ia dekap sejak bersarung dan berpeci di Pesantren Modern Al Zahrah hingga akhirnya sah menyandang gelar sarjana ilmu komunikasi dengan predikat cum laude dari UIN Sumatera Utara, Medan.
Selasa, 7 Juli 2026 lalu menjadi hari yang tak akan dilupakannya. Di ruang rapat Fakultas Ilmu Sosial UINSU, pemuda asal Aceh Tengah itu berdiri tegap mempertahankan skripsi berjudul Pemanfaatan Instagram @prokopimacehtengah sebagai Strategi Humas Pemerintah dalam Perspektif The Circular Model of Some-Relation. Di hadapan Prof. Anang Anas Azhar, M.A. dan Dr. Nursapia Harahap, M.A., setiap argumennya mengalir jernih. Hasilnya sepadan dengan ikhtiar: nama Nanda Rezeki, S.I.Kom. resmi bersanding dengan predikat pujian.
Bagi putra pasangan Suwandi, B.A. dan Mardiah itu, toga bukan garis akhir. Justru di sinilah peran baru dimulai.
“Ini adalah awal untuk berkontribusi bagi agama, bangsa, dan negeri,” ucapnya usai sidang, matanya berbinar menahan haru.
Ia tak lupa menyebut orang tua, guru, dan sahabat sebagai tiang yang menegakkannya sampai titik ini.
“Terima kasih atas doa dan support yang tak putus sampai detik ini,” tuturnya lirih.
Nanda memang bukan nama asing di Al Zahrah. Sejak nyantri, rekam jejak prestasinya sudah berderet.
Tahun 2017 ia Juara 2 Pidato Bahasa Indonesia di Porseni Bireuen. Dua tahun berselang, ia menjuarai Syarhil Qur’an tingkat Kecamatan Juli dalam rangka HUT RI. Tahun 2020, podium Juara 3 Pidato Bahasa Indonesia di Haul Pesantren Almuslim kembali ia duduki. Puncaknya pada 2021: Nanda dinobatkan sebagai Duta Literasi Nasional setelah menyabet Juara 1 Lomba Menulis Puisi Tingkat Nasional.
“Gemar membaca, hobi menulis,” katanya merangkum diri.
Buku dan pena sudah jadi belahan jiwanya. Tak heran, saat wisuda kelulusan Pesantren Al Zahrah 2022, ia tak hanya pulang membawa ijazah, tetapi juga predikat Santri Teladan.
“Alhamdulillah, itu kehormatan dan kebahagiaan yang tak terkira,” kenangnya.
Kini, setelah merantau menimba ilmu di Medan, Nanda memilih pulang. Bukan untuk jeda, tapi untuk mengabdi. Sabtu (11/7/2026), ia kembali menginjakkan kaki di Al Zahrah dengan tekad baru: melahirkan “Nanda-Nanda” berikutnya.
“Gelar sarjana ini tanggung jawab moral. Semoga kehadiran kami bisa memberi dampak bagi masyarakat,” ucapnya.
Dari bilik sederhana di Bireuen, ke podium sidang di Medan, lalu kembali ke pelukan Al Zahrah. Perjalanan Nanda Rezeki adalah pesan sunyi namun lantang: santri boleh terbang setinggi langit, tapi ia tahu persis di mana bumi tempatnya berpijak dan menebar manfaat.[]











