Byklik.com | Banda Aceh – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 73 titik panas (hotspot) di berbagai wilayah Aceh. Temuan tersebut menjadi peringatan serius meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah cuaca panas yang melanda sebagian besar wilayah provinsi itu.
Berdasarkan pemantauan Sensor MODIS dari Satelit Terra, Aqua, Suomi NPP, serta satelit NOAA20/VIIRS, sebaran titik panas terbanyak terpantau di kawasan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan. Titik panas juga terdeteksi di Lembah Seulawah, Aceh Besar, Aceh Singkil, Aceh Jaya, Aceh Tenggara, Lhokseumawe, Aceh Timur, Nagan Raya, Pidie, Simeulue, dan Aceh Barat.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, Nabila, mengatakan kondisi cuaca panas yang terjadi hampir merata di Aceh meningkatkan risiko terjadinya karhutla. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
“Karena kondisi panas cukup merata, masyarakat diharapkan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran lahan maupun hutan,” kata Nabila, Kamis, 9 Juli 2026.
BMKG mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, menghindari pembakaran sampah, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah meluasnya kebakaran di tengah kondisi cuaca yang mendukung penyebaran api.
Di sisi lain, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang di wilayah Aceh Tamiang pada Kamis, 9 Juli 2026. Masyarakat diminta tetap waspada karena perubahan cuaca dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama pada sore hingga malam hari akibat pemanasan yang kuat pada siang hari.
Pengguna jalan juga diingatkan agar berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan karena cuaca ekstrem berpotensi memicu banjir, tanah longsor, dan angin kencang di sejumlah daerah.
Sementara itu, BMKG memprakirakan gelombang laut kategori sedang dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter terjadi di Perairan Aceh Singkil-Pulau Banyak, Perairan Selatan Simeulue, Perairan Sabang-Banda Aceh, Perairan Aceh Besar-Meulaboh, Perairan Aceh Barat Daya-Simeulue, serta Perairan Utara Pidie Jaya-Aceh Besar.
Menurut BMKG, kondisi cuaca tersebut dipengaruhi adanya belokan angin dan daerah konvergensi di wilayah Aceh yang mendukung pertumbuhan awan konvektif. Suhu muka laut yang relatif hangat di perairan barat dan selatan Sumatera juga meningkatkan penguapan sehingga menambah kandungan uap air di atmosfer.
BMKG turut mengingatkan nelayan dan pengguna transportasi laut untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi angin dan gelombang. Risiko keselamatan pelayaran dinilai meningkat, terutama bagi perahu nelayan saat kecepatan angin mencapai 15 knot dengan tinggi gelombang 1,25 meter, serta kapal tongkang ketika angin mencapai 16 knot dengan tinggi gelombang sekitar 1,5 meter.











