Byklik | Tapaktuan—Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Aceh bersama Yellsaints Family bersiap menggelar agenda budaya bertajuk “Apresiasi Pengrajin Kasab Aneuk Jamee Aceh Selatan”. Kegiatan yang didukung oleh Yayasan Kito Basamo dan Berkah Kasab ini direncanakan berlangsung pada Kamis, 9 Juli 2026, bertempat di Gampong Air Sialang Hilir, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan.
Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Gampong Air Sialang Hilir merupakan wilayah yang telah ditetapkan sebagai Kampung Pengrajin Kasab sejak tahun 2012 silam. Acara ini dirancang sebagai bentuk penghormatan nyata bagi tangan-tangan perempuan yang selama ini bekerja dalam diam demi melestarikan megahnya sulaman benang emas khas Aneuk Jamee.
Yelli Sustarina selaku Koordinator Yellsaints Family mengungkapkan, dedikasi luar biasa para pengrajin perempuan ini sering kali luput dari perhatian publik. Padahal, eksistensi pelaminan adat yang menjadi simbol kemegahan pernikahan masyarakat Aneuk Jamee sepenuhnya bergantung pada ketelitian mereka.
“Dalam setiap jahitan kasab, tersimpan waktu, kesabaran, dan ketelitian yang luar biasa. Namun, hingga kini, sebagian besar pengrajin masih menerima upah yang jauh dari sebanding dengan keterampilan dan dedikasi mereka. Karena itu, penghargaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghormatan atas peran perempuan sebagai penjaga warisan budaya,” ujar Yelli, Senin, 6 Juli 2026.
Edukasi Filosofi dan Tantangan Regenerasi

Selain pemberian penghargaan, para perempuan pengrajin juga akan dibekali sesi Edukasi Pelaminan Kasab Aneuk Jamee. Dalam sesi ini, setiap pengrajin akan dibagikan buku berjudul “Makna Pelaminan Kasab Aneuk Jamee Aceh Selatan” yang ditulis langsung oleh Yelli Sustarina.
Langkah ini diambil karena mayoritas pengrajin mewarisi keterampilan menyulam secara turun-temurun tanpa memahami filosofi mendalam di balik setiap motif dan ketentuan adatnya. Melalui buku ini, diharapkan para pengrajin bisa mewariskan pengetahuan tersebut secara utuh kepada generasi penerus.
Menyoroti tantangan zaman, Yelli juga menggarisbawahi kritisnya masalah regenerasi di kalangan pengrajin. Mayoritas pelestari saat ini didominasi oleh generasi tua, sementara anak muda cenderung enggan melirik profesi ini karena dinilai rumit dan kurang menjanjikan secara ekonomi.
Menjawab tantangan tersebut, rangkaian acara ini turut menghadirkan Workshop Menjahit Kasab Sulam Benang Emas yang menyasar generasi muda. Menariknya, Kasab tidak hanya diajarkan sebagai hiasan pelaminan, melainkan diinovasikan menjadi produk ekonomi kreatif (ekraf), seperti gelang, gantungan kunci, syal, tempat tisu, hingga kipas. Targetnya adalah membuka peluang usaha baru bagi perempuan dan pemuda setempat. Seluruh peserta workshop dan mewarnai akan mendapatkan goody bag sebagai apresiasi.
Upaya pelestarian juga menyasar usia dini melalui aktivitas menyenangkan berupa lomba mewarnai kaos bermotif Kasab untuk anak-anak, dengan harapan rasa bangga terhadap budaya lokal dapat tumbuh secara alami.
Tak ketinggalan, Pameran Karya Pengrajin Kasab ikut menyemarakkan lokasi acara. Pameran ini membuka akses pasar langsung bagi masyarakat yang ingin membeli hasil sulaman terbaik karya perempuan Aceh Selatan, sehingga berdampak langsung pada peningkatan ekonomi para pengrajin.
Yelli Sustarina mengajak seluruh elemen masyarakat Aceh Selatan untuk hadir, meramaikan, dan memberikan dukungan nyata dalam pergelaran ini. Uniknya, panitia juga mengusung konsep ramah lingkungan dalam acara budaya ini.
“Sebagai bagian dari komitmen terhadap lingkungan, kami mengajak setiap pengunjung yang hadir untuk membawa tumbler dan tempat bekal pribadi sebagai wadah konsumsi. Mari bersama-sama membuktikan bahwa mencintai budaya juga berarti mencintai bumi,” pungkas Yelli.[]











