Byklik.com | Doha – Pemerintah Qatar membantah rumor mengenai pengurasan atau transfer dana sebesar 12 miliar dolar Amerika Serikat (AS) kepada Iran yang disebut-sebut terkait kesepakatan rahasia di kawasan Timur Tengah.
Juru bicara resmi Kementerian Luar Negeri Qatar, Majid Al-Ansari, menegaskan laporan tersebut tidak berdasar dan merupakan upaya untuk merusak proses diplomasi regional yang sedang berlangsung.
“Laporan mengenai Qatar yang membayar atau menawarkan sejumlah besar uang untuk mencapai kesepakatan rahasia dengan Iran adalah tidak berdasar,” kata Majid Al-Ansari dalam pernyataan resminya, Selasa, 26 Mei 2026.
Pernyataan itu disampaikan melalui akun media sosial X miliknya. Menurut Al-Ansari, berbagai isu yang beredar sengaja dimainkan oleh pihak tertentu untuk melemahkan upaya mediasi Qatar dalam meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Ia menegaskan peran Qatar sebagai mediator diplomatik telah lama diakui komunitas internasional dan dilakukan secara terbuka bersama negara-negara mitra.
“Ini hanyalah upaya putus asa untuk merusak reputasi Qatar sebagai mediator yang kredibel dan netral di panggung internasional,” ujarnya.
Kementerian Luar Negeri Qatar juga memastikan Doha tetap akan melanjutkan pendekatan “diplomasi tenang” dalam membantu penyelesaian berbagai konflik di kawasan.
Bantahan tersebut muncul setelah kantor berita Tasnim Iran melaporkan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melakukan kunjungan ke Doha bersama Menteri Luar Negeri Iran dan Gubernur Bank Sentral Iran.
Menurut laporan Tasnim, kunjungan itu membahas kemungkinan pembebasan sejumlah aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri.
Tasnim menyebut pembahasan tersebut menjadi bagian awal implementasi nota kesepahaman kerja sama antara Iran dan Qatar. Iran juga disebut menjadikan pembebasan aset sebagai salah satu syarat penting dalam proses negosiasi internasional.
Isu tersebut mencuat di tengah sorotan terhadap kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran pada masa Presiden Donald Trump.
Trump sebelumnya menyatakan setiap kesepakatan dengan Teheran harus memberikan keuntungan strategis bagi AS. Ia juga mengkritik kebijakan pemerintahan Barack Obama yang dinilai memberi ruang bagi Iran untuk mengembangkan kemampuan nuklirnya.
Di tengah dinamika tersebut, Qatar terus memainkan peran penting sebagai mediator dalam sejumlah isu geopolitik sensitif di kawasan Timur Tengah.











