Opini & Analisis

Sajadah Panjang Pengabdian Seorang Muslimah

×

Sajadah Panjang Pengabdian Seorang Muslimah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi via bincangsyariah.com

Oleh Isra Masjida*

Kehidupan ini bukanlah sebuah kebetulan yang tanpa arah. Sejatinya, setiap napas yang kita hirup memiliki satu muara besar: pengabdian. Allah Swt telah menegaskan tujuan penciptaan manusia dengan sangat lugas dalam firman-Nya,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS Az-Zariyat: 56).

Baik laki-laki maupun perempuan, keduanya diciptakan untuk menjalankan mandat penghambaan tersebut. Secara syariat, Allah telah memberikan potensi dan tugas spesifik bagi masing-masing sesuai fitrahnya. Namun, dunia adalah tempat bersemainya ujian. Kenyataan hidup sering kali tidak berjalan seideal teori atau harapan yang kita susun dengan rapi.

Allah Swt berfirman dalam pembukaan Surah Al-Mulk,
“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya…” (QS Al-Mulk: 2).

Ayat ini menyadarkan kita bahwa segala kondisi yang Allah pilihkan untuk kita jalani—entah itu kelapangan atau kesempitan—adalah bagian dari skenario ujian-Nya. Termasuk fenomena pergeseran peran yang jamak kita temui hari ini: antara istilah tulang rusuk yang menjadi tulang punggung atau tulang punggung yang tidak berfungsi sebagai penyangga. Isu perempuan bekerja di sektor publik versus mereka yang murni mengurus rumah sering kali menjadi titik krusial yang, jika tidak disikapi dengan bijak, menjadi pemicu melambungnya angka perceraian.

Jika kita kembali pada kesadaran bahwa kita hadir di dunia sebagai hamba (abdi), maka seluruh perjalanan hidup adalah sajadah panjang pengabdian. Menjadi hamba bukan hanya saat kita berdiri, ruku, dan sujud di waktu salat. Pengabdian sejati adalah saat kita meng-abdi dalam putaran waktu yang kita miliki sepanjang hayat.

Segala keadaan—baik itu ideal maupun tidak ideal—adalah “sajadah” tempat kita menghamba. Menjadi istri, menjadi ibu, menjadi bagian dari masyarakat, baik di rumah maupun di sektor publik, adalah medan untuk fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan).

“…Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat)…” (QS Al-Barah: 148).

Saudariku, jika hari ini engkau merasa beban peranmu begitu menghimpit, tengoklah kembali jejak-jejak suci para wanita yang telah dijamin surga, serta para ibu yang tangannya telah mengubah jalannya sejarah.

Baca Juga  Penguatan Diplomasi Akademik

Khadijah binti Khuwailid: teladan kemandirian ekonomi yang menggunakan seluruh pengaruh dan hartanya sebagai penyokong utama dakwah.

Fathimah az-Zahra: simbol keteguhan dan kesederhanaan dalam menjalankan peran domestik meski dalam keterbatasan fisik dan materi.

Aisyah binti Abu Bakar: sosok intelektual yang membuktikan bahwa logika perempuan harus kaya dengan nutrisi keilmuan agar tetap kokoh.

Ibunda Imam Syafi’i (Fathimah binti Ubaidillah): ibu tunggal yang dengan gigih memastikan anaknya menuntut ilmu hingga menjadi pilar umat meski dalam kemiskinan.

Ibunda Imam Bukhari: sosok yang tak putus harapan dan terus mengetuk pintu langit melalui doa saat anaknya mengalami ujian penglihatan, hingga sang anak menjadi periwayat hadis paling terkemuka.

Ibunda Mohammad Hatta (Siti Saleha): menanamkan benih kejujuran dan disiplin yang membentuk karakter negarawan besar Indonesia.

Ibunda Buya Hamka (Siti Safiyah): memberikan asuhan yang membentuk kelembutan jiwa sekaligus ketajaman berpikir seorang ulama dan sastrawan besar.

Serta deretan perempuan-perempuan tangguh lain yang kita kenal, kita baca, kita lihat yang mungkin justru banyak di sekeliling kita.

Menjadi istri dan ibu saja sudah merupakan amanah yang berat, apalagi ditambah peran bekerja atau bergiat di aktivitas sosial yang menguras tenaga. Penting bagi kita untuk menyadari bahwa “sajadah panjang” ini tidak kita bentangkan sendirian.

Pergeseran peran yang terjadi bukanlah ajang kompetisi, melainkan panggilan untuk sebuah kolaborasi potensi. Antara laki-laki dan perempuan, antara suami dan istri, sejatinya ada mandat untuk saling menggenapi demi memenuhi fitrah masing-masing dalam harmoni pengabdian kepada Allah.

Agar kaki tetap tegak melangkah di atas “sajadah panjang” ini, kita butuh beberapa hal yang sangat fundamental. Pertama, mengokohkan tauhid.  Menyadari bahwa pemberi kekuatan hanya Allah. Jangan menyandarkan keimanan dan kebahagiaan kepada makhluk (pasangan atau siapa pun), karena sandaran pada manusia seringkali menjadi pangkal kekecewaan. Kedua, ibadah sebagai “charger”. Memperbaiki kualitas ibadah pokok. Menjadikan dialog dengan Allah sebagai sarana mengisi ulang energi spiritual saat lelah. Berdialog dengan-Nya selalu membawa ketenangan dan kemenangan. Ketiga, fokus pada masa kini. Tidak sibuk mengurusi masa lalu dan tidak waswas tentang hari esok yang belum pasti. Mensyukuri apa yang ada di tangan hari ini. Keempat,  meluangkan waktu belajar agama (tholabul ‘ilmi). Mengenal Allah membutuhkan ilmu. Kita diperintahkan untuk membekali diri dengan ilmu sebelum berkata dan berbuat sebagai firman Allah Swt, “Maka ketahuilah (ilmuilah), bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) selain Allah…” (QS Muhammad: 19).

Baca Juga  Media Massa Daring di Era AI

Ilmu agama adalah nutrisi bagi logika. Secara fitrah, wanita didominasi oleh perasaannya. Jika logika tidak diberi asupan keilmuan yang benar, maka ia akan mudah tenggelam, bahkan hancur oleh ombang-ambing perasaannya sendiri. Ilmu adalah jangkar yang menjaga perasaan agar tetap terkendali dalam koridor syariat.

Fokus utama kita adalah kesadaran bahwa kita semua sedang di arah jalan pulang menuju Allah. Tidak ada alternatif jalan dengan tujuan selain itu. Maka, segala keadaan yang kita hadapi hari ini adalah ladang amal untuk mengambil bekal pahala sebanyak-banyaknya. Karena jalan itu jauh dan berat. Bagaimanakah keadaan kita jika untuk ke sana tak berbekal apa-apa?

Semoga Allah pantaskan kita semua untuk menjadi hamba dengan sebaik-baik amal (ahsanul ‘amala), di mana standar kebaikan itu terletak pada keikhlasan niat dan kebaikan cara. Dan hanya kepada Allah kita memohonkan pemaafan sekaligus pertolongan; agar Ia berkenan menggenapi yang kurang, menyempurnakan yang bercela, dan meluruskan segala yang masih bengkok dalam diri kita.

Sebagaimana doa yang diajarkan-Nya, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya, Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya, Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaf kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami…” (QS. Al-Baqarah: 286).

Hasbunallaahu ni’mal wakil ni’mal mawlaa wa ni’man nashiir

 

*Penulis adalah seorang istri, ibu dari empat anak, guru mengaji, dan ASN di Aceh Tengah