Byklik.com | Banda Aceh – Perhelatan Khanduri Jazz 2026 mengusung tema solidaritas kemanusiaan sebagai bentuk penghormatan kepada relawan bencana di Aceh, sekaligus merespons dampak bencana ekologis yang terjadi pada akhir 2025, Sabtu, 2 Mei 2026.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 30 April hingga 1 Mei 2026 di Ayani Hotel Peunayong ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan musik, tetapi juga ruang refleksi sosial.
Founder Khanduri Jazz, Uzair, mengatakan tema “Solidarity for Humanity” dipilih sebagai refleksi atas bencana yang meninggalkan duka sekaligus memperkuat semangat gotong royong masyarakat Aceh.
“Kita tidak lepas dari apa yang terjadi di daerah kita. Bencana ekologis itu menjadi latar belakang kenapa tahun ini kita mengangkat tema solidaritas untuk kemanusiaan,” ujar Uzair.
Ia menegaskan, Khanduri Jazz tahun ini secara khusus dipersembahkan untuk para relawan dan pekerja kemanusiaan yang terlibat langsung dalam penanganan bencana.
“Acara ini kami persembahkan sebagai bentuk penghargaan untuk mereka, sekaligus menjadi momentum kebangkitan bagi kita semua di Aceh,” katanya.
Menurut Uzair, sejumlah relawan yang hadir bahkan bukan sekadar penonton, tetapi merupakan individu yang terjun langsung membantu korban di lapangan.
Selain menghadirkan hiburan, Khanduri Jazz juga membawa pesan empati dan kebersamaan melalui musik. Para musisi yang tampil berasal dari lintas generasi, mulai dari remaja hingga usia pensiun.
“Ini lintas generasi. Dari usia belasan sampai usia pensiun bisa tampil bersama. Itu yang membuat Khanduri Jazz punya warna tersendiri,” jelasnya.
Khanduri Jazz merupakan bagian dari perayaan International Jazz Day yang diinisiasi UNESCO dan digelar serentak di lebih dari 190 negara. Banda Aceh menjadi salah satu kota yang berpartisipasi dalam perayaan global tersebut.
Meski demikian, Uzair mengakui penyelenggaraan kegiatan ini masih menghadapi keterbatasan dukungan, terutama dari sisi pendanaan.
“Harapan kita ke depan, kegiatan ini bisa masuk dalam kalender tahunan dan mendapat dukungan yang lebih serius, termasuk dari pemerintah,” ungkapnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, antusiasme masyarakat justru meningkat. Sekitar 250 kursi yang disediakan hampir seluruhnya terisi oleh pengunjung dari berbagai kalangan.











