HeadlineHiburan & Budaya

Monumen Samudera Pasai, Kemegahan yang Terabaikan

Avatar
×

Monumen Samudera Pasai, Kemegahan yang Terabaikan

Sebarkan artikel ini
Monumen Samudera Pasai di Desa Beuringen Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Foto: Dok. Byklik.com

SEJARAH besar tak selalu dirawat dengan cara yang besar. Di Monumen Samudera Pasai, kejayaan masa lalu justru seperti berdiri sendirian—tanpa perhatian, tanpa cerita yang benar-benar dihidupkan kembali.

Monumen dan Museum Samudera Pasai di Desa Beuringen Kecamatan Samudera merupakan salah satu destinasi unggulan Kabupaten Aceh Utara yang sering menjadi tujuan masyarakat di hari libur. Dalam setiap promosi destinasi wisata di Aceh Utara, Monumen Samudera Pasai selalu masuk di dalamnya.

Lokasi kedua destinasi tersebut satu rangkaian dengan Makam Sultan Malikussaleh yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari Monumen atau Museum Samudera Pasai. Sekitar 2 kilo meter ke arah pesisir pantai, terdapat komplek Makam Sultanah Nahrasiyah.

Jadi, ketika berkunjung ke sana, harus menyediakan waktu yang lumayan lama agar bisa berkunjung keempat destinasi tersebut; Monumen Samudera Pasai, Museum Samudera Pasai, Makam Malikussaleh, dan Makam Sultanah Nahrasiyah. Semuanya tempat bersejarah berlatar kejayaan Kerajaan Islam Samudera Pasai.

Bangunan berwarna krem tersebut berdiri di atas lahan seluas 7,7 hektar dan tampak gagah menghadap Selat Malaka. Mulai dibangun pada 2012 dan rampung sekitar 2017 dengan menggunakan anggaran APBN senilai Rp49,1 miliar yang dialokasikan secara multiyears. Kasus korupsi yang menyertai keberadaan bangunan megah tersebut lebih mencuat dibandingkan sejarahnya sendiri. Sejumlah tokoh yang terlibat di dalamnya sudah divonis bahkan sampai tingkat kasasi di Mahkamah Agung pada 2023 silam.

Baca Juga  Salip London dan Paris, Bali Jadi Destinasi Wisata Terbaik Dunia 2026

Monumen Samudera Pasai yang dibangun di samping Museum Samudera Pasai, memang dibangun untuk mengenang kejayaan Kerajaan Samudera Pasai (1267 – 1524 M) yang dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia. Selain itu, sebagai bagian dari pelestarian sejarah Kerajaan Samuder Pasai, sekaligus menjadi destinasi wisata.

Sayangnya, tujuan mulia tersebut terkotori dengan kasus korupsi dalam pembangunannya. Ironisnya, Monumen Samudera Pasai kini terbengkalai, tidak terawat, dan kondisinya memprihatinkan.

Seorang pedagang di lokasi menyebutkan, Monumen dan Museum Samudera Pasai masih sering dikunjungi warga, termasuk dalam masa liburan Idulfitri 1447 Hijriah. “Umumnya warga singgah ketika melintasi Geudong (ibukota Kecamatan Samudera),” ungkapnya.

Jarak Monumen Malikussaleh dari Keude Geudong hanya sekitar 2,7 kilometer dengan melintasi beberapa perkampungan. Jalanan di sana lumayan bagus meski agak sempit ketika ada beberapa kendaraan melintas.

Namun ketika memasuki komplek Monumen dan Museum Malikussaleh, pengunjung akan menjumpai jalanan tanpa aspal yang bergelombang. Kondisi jalanan tersebut tidak sepadan dengan kondisi Museum dan Monumen Samudera Pasai yang mentereng.

Baca Juga  Kemenparekraf Promosikan Indonesia sebagai Destinasi Wisata Edukasi bagi Wisatawan Australia

Nanik Sudartik yang pernah menjadi Duta Museum Samudera Pasai mengungkapkan, pengunjung biasanya datang ke museum dan monumen serta Makam Sultan Malikussaleh dalam satu kesempatan. “Biasanya, kalau ada waktu mereka juga berkunjung ke Makam Sultanah Nahrasiyah,” ujar alumni Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah tersebut.

Seorang tokoh masyarakat Geudong, Asyari, menyebutkan Monumen Samudera Pasai juga sering dijadikan lokasi pemotretan pra wedding. “Kalau digarap serius, bangunan itu bisa menjadi destinasi andalan, pengunjungnya akan lebih banyak,” katanya.

Kondisi Monumen Samudera Pasai yang terlihat megah di luar, ternyata justru berbanding terbalik ketika masuk ke dalamnya. Banyak ruang dan sudut yang tidak terpakai, beberapa tembok sudah retak. Lebih memprihatinkan, di beberapa ruangan terlihat tumpukan sampah dan berbau pesing, jejak ada yang kencing sembarangan di tempat itu.

Kerajaan Kesultanan Malikussaleh yang banyak dicatat para penjelajah dunia di masa lalu, sama sekali tidak terlihat di Monumen Samudera Pasai. Anggaran puluhan miliar rupiah seperti terbuang percuma, tak sebanding dengan manfaat yang dirasakan.

Sejarah tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya menunggu untuk dipedulikan. Sayangnya, di Monumen Samudera Pasai, penantian itu terasa terlalu panjang dan penuh tanda tanya.[]