Pendidikan & Karier

Tetap Aktif dan Kreatif Menulis di Era AI

Avatar
×

Tetap Aktif dan Kreatif Menulis di Era AI

Sebarkan artikel ini
SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe menggelar pelatihan menulis artikel dan editorial, Rabu, 25 Februari 2025. Byklik.com | Suci Idealisti Meutia

DALAM sebuah lomba menulis artikel untuk siswa SLTA seluruh Aceh yang digelar Universitas Malikussaleh, lima dari enam juara disapu bersih SMA Sukma Bangsa dari Lhokseumawe, Bireuen, dan Sigli. Satu-satunya juara yang lepas dari tangan mereka adalah juara pertama. Tempat paling bergengsi itu diraih siswi MAN Negeri 1 Lhokseumawe.

Inilah hasil dari tradisi literasi yang terus dijaga di SMA Sukma Bangsa. Bukan hanya bagi peserta didik, para guru pun aktif di dunia literasi. Melahirkan karya berupa buku, baik bagi siswa maupun guru, sudah menjadi kegiatan rutin. Kenduri buku merupakan kegiatan literasi yang selalu digelar di SMA Sukma Bangsa.

Demikian juga dengan pelatihan menulis, baik karya sastra maupun jurnalistik. Tidak hanya menulis berita dalam kegiatan jurnaslime dasar, siswa SMA Sukma Bangsa juga giat membuat pelatihan menulis artikel dan editorial.

Tema tentang penulisan artikel dan editorial itulah yang diikuti sekitar 40 siswa SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, Rabu, 25 Februari 2026. Para peserta duduk di atas lantas perpustakaan yang bersih dan nyaman. Tempat itu memang sering digunakan untuk kegiatan ketika ada guru tamu.

Baca Juga  USU Umumkan Mahasiswa Berprestasi 2026, Atiqa Zhakira Syahrul Juara Utama

Hari itu, SMA Sukma Bangsa mengundang Ayi Jufridar, seorang penulis dan jurnalis di Aceh yang kini menjadi anggota Bawaslu Kota Lhokseumawe. Namun, ia tidak berbicara tentang pemilu dan demokrasi, meski tema tentang itu selalu menjadi menu wajib untuk mengoptimalkan momen tersebut. Dua atau tiga menit bahasan tentang pemilu menjadi pembuka materi tentang menulis artikel dan editorial.

“Ketika jadi editor di sebuah koran harian di Aceh, saya selalu jadi penulis editor kalau ada isu tentang politik dan demokrasi atau isu ekonomi bisnis,” ungkap Ayi Jufridar.

Menurutnya, meski ditulis editor senior atau terkadang oleh pemimpin redaksi, tajuk rencana atau editorial dihasilkan dari ekstraksi pikiran banyak kepala, termasuk para wartawan di lapangan. “Jadi, poin-poin penting itu  dirangkum jadi editorial. Beda dengan artikel yang mewakili pribadi penulisnya. Editorial itu mewakili media masing-masing,” papar Ayi Jufridar.

Ia menjelaskan, dari aspek tujuan saja, artikel dan editorial sudah berbeda. Artikel ditulis pribadi untuk memberikan informasi, analisis, argumen, dan edukasi. Sedangkan editorial untuk menyampaikan sikap media terhadap isu tertentu. Gaya tulisannya pun sedikit berbeda. “Artikel lebih bersifat informatif dan argumentatif. Sedangkan editorial lebih persuasif,” jelasnya.

Baca Juga  Disbudpar Aceh dan BPBA Gelar Pameran Temporer Kebencanaan di Museum Tsunami

Kendati dalam suasana puasa Ramadan 1447 H, para peserta antusias mengikuti dan berdiskusi. Empat siswa yang bertanya, Cut Nayla Syahrani, Liwaul Rahmi Ay-Thaqi, Irfan Rahim Nashuha, dan Cut Dara Rizka Akhira, silih berganti bertanya dan memberikan pendapat. Mereka bertanya mengapa perlu ada rubrik editorial dalam sebuah media dan membahas beberapa isu-isu yang layak diangkat dalam editorial, salah satunya adalah kasus keracunan makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Bireuen.

Guru pembimbing, Suci Aulia Zahman, mewajibkan siswa menulis editorial sebagai tugas. “Tapi tugas kelompok, jadi mereka bisa berdiskusi tentang isu yang diangkat dan data yang dibutuhkan,” ujarnya.

Jadi, di tengah kemudahan menulis dengan menggunakan berbagai kecerdasan buatan, pada akhirnya peserta didik tetap harus berpikir dan kreatif.[]