Byklik.com | Riyadh — Serangan rudal dan pesawat tak berawak di kawasan Timur Tengah memaksa penutupan sejumlah wilayah udara dan mengganggu jaringan penerbangan internasional. Akibatnya, banyak maskapai terpaksa mengurangi bahkan membatalkan penerbangan, menyebabkan puluhan ribu penumpang terlantar.
Gangguan ini disebut sebagai kekacauan perjalanan udara terbesar di kawasan Teluk sejak pandemi COVID-19, karena jadwal penerbangan komersial menjadi sangat terbatas dan tidak dapat diprediksi.
Di tengah situasi tersebut, kalangan super kaya memilih cara cepat untuk meninggalkan wilayah konflik dengan menyewa jet pribadi, meski harus membayar biaya yang sangat mahal.
Pendiri sekaligus Ketua perusahaan jet pribadi AirX, John Matthews, mengatakan permintaan penerbangan charter pribadi melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir.
“Permintaan meningkat drastis karena jadwal penerbangan komersial menjadi terbatas dan tidak dapat diprediksi,” kata Matthews.
Menurutnya, klien yang menggunakan layanan tersebut tidak hanya berasal dari keluarga kaya, tetapi juga perusahaan multinasional yang ingin memindahkan eksekutif senior mereka ke lokasi yang lebih aman.
“Selain individu kaya, ada juga perusahaan yang memindahkan eksekutif senior, bahkan kelompok besar seperti tim olahraga atau kru tur yang harus bepergian bersama,” ujarnya.
Sementara itu, CEO perusahaan penyewaan jet pribadi SHY Aviation, Bernardus Vorster, mengungkapkan bahwa jumlah penerbangan jet pribadi meningkat tajam sejak konflik terjadi.
“Sebelum konflik, hanya ada sekitar 10 hingga 15 penerbangan jet pribadi setiap hari dari Muscat, Dubai, dan Riyadh. Namun pada 4 Maret jumlahnya melonjak menjadi 98 penerbangan,” kata Vorster.
Lonjakan permintaan, terbatasnya ketersediaan pesawat, serta tingginya biaya asuransi membuat tarif sewa jet pribadi melonjak drastis.
Vorster mencontohkan, satu kelompok berisi 12 orang bersama hewan peliharaan mereka menyewa penerbangan dari Muscat menuju Istanbul dengan durasi sekitar lima jam seharga 145.000 dolar AS.
“Sebelum konflik, penerbangan serupa hanya menelan biaya sekitar 60.000 dolar AS,” ujarnya.
Pada awal konflik, Muscat dan Riyadh menjadi titik keberangkatan utama karena koridor penerbangan dinilai lebih stabil. Namun kemudian Dubai juga menjadi lokasi favorit bagi mereka yang ingin meninggalkan kawasan tersebut.
Saat ini, Istanbul menjadi tujuan paling populer karena jaraknya relatif dekat dengan kawasan Timur Tengah. Selain itu, Athena di Yunani dan Mumbai di India juga menjadi destinasi alternatif.
Meski demikian, layanan charter jet pribadi hanya mampu memenuhi sebagian kecil kebutuhan perjalanan.
“Jet pribadi tidak bisa menggantikan jaringan transportasi besar milik maskapai komersial. Namun layanan ini tetap menjadi solusi cepat bagi organisasi atau kelompok yang harus berangkat secara mendesak,” kata Matthews.
Vorster menambahkan bahwa rata-rata jet pribadi hanya dapat membawa sekitar 12 penumpang, sementara seluruh kawasan tersebut hanya memiliki sekitar 40 hingga 50 pesawat yang siap beroperasi.
“Dalam seminggu terakhir, kami membantu sekitar 120 orang meninggalkan Timur Tengah menggunakan penerbangan charter pribadi,” katanya.
Sementara itu, puluhan ribu orang lainnya masih berupaya keluar dari kawasan tersebut karena penerbangan komersial belum sepenuhnya pulih.
Sejumlah negara pun mulai meluncurkan penerbangan repatriasi bagi warga negaranya. Pada 10 Maret, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan telah membantu lebih dari 20 penerbangan charter untuk mengevakuasi ribuan warga Amerika dari Timur Tengah.
Pemerintah AS juga menyatakan bahwa kondisi penerbangan komersial di kawasan tersebut secara bertahap mulai membaik.











