Byklik.com | Lhoksukon — Tiga bulan setelah bencana ekologis melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir 2025, banyak penyintas masih hidup dalam kondisi serba terbatas. Sebagian warga masih tinggal di tenda darurat, sementara hunian sementara (huntara) di beberapa lokasi belum sepenuhnya siap atau layak dihuni.
Dalam situasi ini, penguatan peran perempuan dinilai menjadi kunci penting dalam menjaga ketahanan keluarga dan lingkungan sosial di tengah masa pemulihan pascabencana.
“Tidak ada ujian tanpa rapor. Setiap ujian pasti ada pelajaran yang bisa kita ambil,” ujar Ketua Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh, Rasyidah, dalam diskusi Penguatan Peran Perempuan dalam Situasi Pascabencana bersama ibu-ibu di Dusun Pasi, Desa Keude Bungkaih, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Minggu, 8 Maret 2026.
Ia menekankan bahwa dalam menghadapi bencana, masyarakat perlu mengedepankan tiga sikap utama, yakni kesabaran, husnuzan atau berprasangka baik, serta tawakal kepada Tuhan. Namun tawakal, kata dia, bukan berarti pasrah tanpa usaha.
“Tawakal itu bukan berarti tidak berusaha dan menerima apa adanya. Kita harus berusaha maksimal dulu, baru kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah,” kata Rasyidah dalam diskusi yang sekaligus untuk memperingati Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret.
Rasyidah menjelaskan, bencana yang dipicu oleh hujan ekstrem pada akhir November 2025 lalu tidak hanya menyebabkan banjir dan longsor di sejumlah wilayah Aceh. Selain merusak rumah dan lahan pertanian, bencana juga memicu kerentanan baru, terutama bagi perempuan dan anak.
Dalam situasi darurat, risiko kekerasan berbasis gender juga meningkat. Sejumlah kasus yang dilaporkan di berbagai daerah pascabencana mencakup pelecehan seksual, pengintaian di fasilitas mandi (MCK) terbuka, hingga kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan keluarga.
“Predator tetap beraksi saat bencana. Ketika situasi kacau, perempuan menjadi semakin rentan,” katanya.
Selain ancaman kekerasan, perempuan juga menghadapi kesulitan akses selama masa pemulihan bencana. Kerusakan jalan di sejumlah wilayah membuat mobilitas menjadi terbatas.
Akibatnya, perempuan sering harus bergantung pada bantuan pihak luar untuk memenuhi kebutuhan dasar maupun mendapatkan akses layanan. Kondisi seperti inilah yang kerap dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan dengan berbagai modus.

Anggota Presidium BSUIA lainnya, Rukiyah Hanum, menambahkan, kondisi hunian dan fasilitas pengungsian yang aman menjadi sangat penting untuk mencegah terjadinya kekerasan.
Jika terjadi kasus yang mengancam keselamatan korban, masyarakat diminta tidak ragu melaporkannya kepada aparat penegak hukum.
“Kalau perselisihan biasa bisa diselesaikan di tingkat gampong. Tapi kalau menyangkut keselamatan nyawa, itu harus dilaporkan ke polisi,” ujarnya.
Situasi ekonomi yang memburuk juga berdampak pada hubungan dalam rumah tangga. Dalam beberapa kasus, tekanan hidup memicu meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
“KDRT meningkat pascabencana. Bisa suami ke istri, istri ke anak, bahkan istri ke suami,” ujar Hanum.
Di sisi lain, beban ekonomi keluarga juga meningkat. Banyak sumber penghidupan warga yang rusak akibat bencana.
Seorang peserta diskusi menceritakan bagaimana berbagai aset produksi warga hilang atau rusak.
“Ada yang usaha batu bata, semua bahan yang sudah dibuat hanyut sampai ke laut. Mesin jahit juga ada yang hilang. Sawah banyak yang tertimbun lumpur,” katanya.
Peran Perempuan Tetap Vital

Meski menghadapi berbagai kerentanan, perempuan dinilai tetap memegang peran penting dalam menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat selama masa darurat hingga pemulihan.
Di banyak gampong, perempuan menjadi penggerak dapur umum yang menyediakan makanan bagi para penyintas. Sebagian lainnya aktif mencari bantuan, mengorganisasi komunitas, atau berupaya mencari sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.
“Peran perempuan sangat penting, misalnya di dapur umum. Dari sana kehidupan di gampong bisa tetap berjalan,” kata Rasyidah.
Ia juga menekankan bahwa pengalaman yang dialami perempuan selama menghadapi bencana merupakan pengetahuan berharga yang perlu didengar dan dijadikan dasar dalam perencanaan pemulihan.
“Pengalaman perempuan itu sebenarnya adalah pengetahuan,” ujarnya.
Karena itu, organisasi perempuan di tingkat komunitas diharapkan tetap aktif bekerja selama masa tanggap darurat hingga pemulihan. Kehadiran mereka dinilai penting untuk memastikan kebutuhan perempuan dan anak tetap terlindungi dalam situasi krisis.
“Mari sama-sama kita perkuat peran perempuan. Mereka tidak hanya berjuang untuk keluarga, tetapi juga untuk menjaga lingkungan sosial di tengah situasi bencana,” katanya.
Di sejumlah lokasi pengungsian, fasilitas yang belum memadai memunculkan berbagai persoalan perlindungan.
Beberapa pengungsi mengeluhkan kondisi hunian sementara yang belum menyediakan ruang kamar terpisah bagi keluarga. Selain itu, fasilitas sanitasi seperti kamar mandi juga belum sepenuhnya terpisah antara laki-laki dan perempuan.
“Kondisi seperti ini membuat ibu-ibu tidak nyaman. Huntara tanpa kamar bisa berbahaya,” ujar seorang peserta diskusi.
Diskusi ini juga diwarnai dengan penyampaian informasi tentang penggunaan internet sehat dan positif oleh Ihan Nurdin dari Perempuan Peduli Leuser. Peserta didorong untuk memanfaatkan perangkat teknologi dalam mengakses informasi terkait kebencanaan sebagai upaya mitigasi. Juga mengakses informasi dari website atau akun-akun yang terpercaya.
Di akhir kegiatan, pihak Balai Syura juga memberikan sejumlah bantuan kepada warga, seperti mukena, kain sarung, perlengkapan bayi, Al-Qur’an dan Iqran, tasbih, dan paket sembako yang berasal dari donasi banyak pihak.[]











