Berita Utama

Kemenkes Dirikan RS Lapangan Berbasis Tenda Udara

Bambang Iskandar Martin
×

Kemenkes Dirikan RS Lapangan Berbasis Tenda Udara

Sebarkan artikel ini
Rumah sakit (RS) lapangan berbasis tenda udara (inflatable). (Foto: Biro Kominfo dan Publik Kemenkes)

Byklik.com | Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendirikan dua rumah sakit (RS) lapangan berbasis tenda udara (inflatable) untuk mendukung penanganan korban gempa bumi yang melanda tujuh kabupaten di Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selain mendirikan RS lapangan, Kemenkes mengerahkan 392 tenaga kesehatan untuk memperkuat pelayanan medis bagi masyarakat terdampak. Langkah ini dilakukan setelah sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kerusakan akibat gempa, sementara kebutuhan penanganan korban luka berat terus berlangsung.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin mengatakan, hingga Rabu, 26 Agustus 2026, bencana tersebut telah menyebabkan 105 orang meninggal dunia. Sebanyak 385 korban mengalami luka berat dan masih menjalani perawatan intensif, sedangkan 1.287 orang mengalami luka ringan.

Menurut Agus, lebih dari 185.000 warga kini tersebar di 444 titik pengungsian. Sementara itu, total warga terdampak di tujuh kabupaten, yakni Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sikka, Ende, dan Ngada, mencapai sekitar 1,91 juta jiwa.

Kerusakan sejumlah fasilitas kesehatan membuat pelayanan medis harus dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Kemenkes kemudian mendirikan RS lapangan di Aeramo, Kabupaten Nagekeo, serta di sekitar RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai.

“Ketika bangunan faskes rusak atau retak, pelayanan harus dipindahkan ke lokasi yang lebih aman agar keselamatan pasien dan tenaga kesehatan tetap terjamin,” ujar Agus dalam temu media di Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026.

Baca Juga  Gempa Megathrust Guncang Simeulue, Belasan Warga Terluka

Hingga Selasa, 25 Agustus 2026, RS lapangan di Aeramo telah melakukan tindakan operasi terhadap delapan pasien.

Untuk memperkuat kapasitas pelayanan kesehatan di daerah terdampak, Kemenkes mengerahkan 207 relawan medis dari pusat. Selain itu, 78 relawan tambahan dengan kompetensi pelayanan intensif disiapkan untuk bertugas selama 14 hari.

Mobilisasi tenaga kesehatan lintas profesi tersebut dikoordinasikan melalui Health Emergency Operation Center (HEOC). Tenaga yang dikerahkan mencakup berbagai bidang, antara lain spesialis bedah, ortopedi, gizi, dan sanitasi.

Dukungan tersebut diarahkan untuk memperkuat pelayanan kesehatan di 70 rumah sakit dan 444 puskesmas di wilayah terdampak.

Salah satu tenaga medis yang terlibat dalam penanganan korban adalah dr. Alfin Bakhtiar Ilhami, Chief Resident Ortopedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang bertugas bersama tim RSUD Dr. Soetomo.

Alfin mengatakan, timnya telah menangani 18 pasien selama sepekan terakhir. Dari jumlah tersebut, empat pasien mendapatkan perawatan konservatif, sedangkan 14 pasien lainnya harus menjalani tindakan operasi.

Salah satu kasus yang ditangani merupakan pasien dengan patah tulang multipel yang melibatkan tulang selangka, lengan bawah, dan pergelangan kaki.

Baca Juga  Karhutla Hanguskan Sepuluh Hektare Lahan Kebun di Aceh Besar

“Ini merupakan operasi yang kompleks karena menangani tiga bagian tubuh secara bersamaan. Di tengah tindakan, kami bahkan sempat merasakan gempa susulan. Namun, karena kami beroperasi di dalam RS lapangan berstruktur balon (inflatable), tindakan tetap dapat dilanjutkan dengan aman dan hasil maksimal,” kata Alfin.

Selain menangani korban dengan trauma fisik, Kemenkes juga mengantisipasi potensi masalah kesehatan di lokasi pengungsian. Berdasarkan data yang disampaikan Kemenkes, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan dengan 9.668 kasus.

Petugas kesehatan juga mencatat 35 kasus gigitan hewan penular rabies di Kabupaten Nagekeo. Seluruh korban telah mendapatkan penanganan dan vaksinasi sesuai kebutuhan.

Kemenkes memastikan ketersediaan logistik medis, alat kesehatan, serta sistem rujukan pasien tetap berjalan selama masa penanganan bencana.

Masyarakat terdampak juga diimbau menjaga kebersihan lingkungan pengungsian dan segera mendatangi posko kesehatan terdekat apabila mengalami keluhan kesehatan.

Pendirian RS lapangan dan pengerahan tenaga kesehatan menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga keberlangsungan pelayanan medis bagi masyarakat terdampak serta memastikan penanganan korban tetap memperhatikan keselamatan pasien dan tenaga kesehatan.***