Byklik.com | Washington – Laporan intelijen Amerika Serikat menyebut pemerintahan Iran tetap stabil dan tidak berada di ambang keruntuhan meskipun negara itu menghadapi serangan militer besar dari Amerika Serikat dan Israel dalam beberapa pekan terakhir.
Temuan tersebut disampaikan sejumlah pejabat intelijen AS yang menilai struktur kekuasaan Iran masih mampu mempertahankan kendali politik dan keamanan di dalam negeri.
Menurut laporan itu, serangan militer yang dimulai sejak akhir Februari 2026 memang menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, namun sistem pemerintahan Iran tetap bertahan dan segera membentuk kepemimpinan baru.
Putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, kemudian ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi yang baru, sementara elit politik dan militer Iran tetap mempertahankan kontrol terhadap negara.
Penilaian intelijen tersebut juga menyebut tidak ada kelompok oposisi yang cukup kuat untuk menggantikan pemerintahan Iran dalam waktu dekat, meskipun tekanan militer dan politik terhadap Teheran meningkat tajam.
Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu ketegangan besar di kawasan Timur Tengah, terutama setelah serangkaian serangan yang menargetkan fasilitas militer dan nuklir Iran.
Meski demikian, laporan intelijen menilai pemerintahan Iran masih memiliki dukungan dari struktur militer utama seperti Garda Revolusi Iran serta jaringan kekuasaan internal yang kuat, sehingga kecil kemungkinan terjadi perubahan rezim dalam waktu dekat.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa operasi militer yang dilakukan Washington dan sekutunya belum secara signifikan menggoyahkan fondasi kekuasaan di Teheran, meskipun konflik di kawasan terus berkembang dan berpotensi memicu eskalasi lebih luas.











