Pendidikan & Karier

Di Usia 26 Tahun, Dea Resmi Jadi Doktor Termuda UGM

Avatar
×

Di Usia 26 Tahun, Dea Resmi Jadi Doktor Termuda UGM

Sebarkan artikel ini
Dea Angelia Kamil tercatat sebagai lulusan doktor termuda dalam wisuda pascasarjana UGM periode ini. [Foto: UGM]

ByKlik.com | Yogyakarta — Di usia yang belum genap 27 tahun, Dea Angelia Kamil menorehkan prestasi luar biasa. Ia resmi menyandang gelar doktor dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan tercatat sebagai lulusan doktor termuda dalam wisuda pascasarjana UGM periode ini.

Dea menjadi bagian dari 1.061 lulusan pascasarjana UGM, yang terdiri atas 825 lulusan magister, 118 lulusan spesialis, 14 lulusan subspesialis, dan 104 lulusan doktor, serta 13 lulusan periode sebelumnya. Namun, capaian Dea mencuri perhatian karena usianya yang terpaut jauh dari rata-rata lulusan doktor UGM, yakni 40 tahun 5 bulan 15 hari. Saat diwisuda, Dea berusia 26 tahun 11 bulan 17 hari.

Prestasi tersebut bukan datang secara instan. Dea mengaku telah menyiapkan langkah akademiknya sejak dini. Program akselerasi saat SMA membawanya lebih cepat menapaki jenjang perguruan tinggi. Kesempatan semakin terbuka ketika ia lolos program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU), beasiswa yang memungkinkannya menuntaskan studi S2 dan S3 dalam waktu sekitar empat tahun.

Baca Juga  Dosen USK Diskusikan Perkembangan AI dengan Google Indonesia

“Semua ini berkat persiapan yang matang dan dukungan beasiswa. Saya bisa menyelesaikan S2 dan S3 kurang lebih dalam empat tahun,” ujarnya Kamis, 22 Januari 2026.

Ketertarikan Dea pada dunia komputasi tumbuh sejak menempuh studi sarjana di jurusan Matematika. Ia kemudian memutuskan beralih ke Ilmu Komputer untuk mendalami machine learning dan artificial intelligence (AI). Pilihan itu membawanya ke Program Studi Doktor Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM.

Keseriusannya berbuah kesempatan riset internasional. Melalui Program Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional (PKPI) bagi mahasiswa PMDSU, Dea menjalani penelitian di University of Ulsan, Korea Selatan. Di sana, ia mengembangkan sistem intelligent transportation system, khususnya pada estimasi kecepatan kendaraan berbasis sistem otomatis.

“Saya mengerjakan riset tentang vehicle speed estimation yang berjalan secara otomatis sehingga meminimalkan intervensi manual. Itu pengalaman yang sangat berharga,” tuturnya.

Namun, perjalanan akademik tersebut juga menguji ketangguhan. Ritme kerja yang disiplin, jadwal riset yang padat, hingga adaptasi dengan musim dingin Korea Selatan menjadi tantangan tersendiri. “Hari kerja sangat intens dari Senin sampai Jumat, bahkan Sabtu masih diisi seminar dan bimbingan. Ditambah lagi harus beradaptasi dengan cuaca ekstrem,” kenangnya.

Baca Juga  USK Kukuhkan Lima Profesor Baru

Di balik capaian gemilang itu, Dea menegaskan pentingnya dukungan lingkungan. Ia bersyukur memiliki keluarga yang suportif, termasuk sang suami yang juga rekan seperjuangan di program PMDSU dan diwisuda bersamaan dengannya. Dukungan akademik juga ia peroleh dari promotor Prof. Agus Harjoko serta rekan-rekan di Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi (Elins).

“Lingkungan belajar yang positif sangat membantu. Diskusi rutin dan kebersamaan di laboratorium membuat proses riset terasa lebih ringan,” ujarnya.

Menutup kisahnya, Dea menyampaikan pesan reflektif bagi generasi muda yang bercita-cita menempuh pendidikan doktor. Menurutnya, prestasi akademik tinggi harus diiringi kesiapan mental dan ketekunan.

“Kejarlah mimpi setinggi mungkin. Tapi pahami bahwa S3 penuh tantangan, mulai dari tuntutan publikasi hingga proses riset yang panjang. PhD is not for everyone, tetapi jika sudah menemukan jalannya, setiap prosesnya akan terasa sangat berharga,” pungkasnya.