Byklik.com | Meulaboh – Bupati Aceh Barat, Tarmizi, mendorong generasi muda di daerah itu memanfaatkan peluang kerja di Jepang bukan hanya untuk memperoleh penghasilan, tetapi juga membangun pengalaman, kedisiplinan, wawasan, dan pola pikir yang lebih maju.
Dorongan tersebut disampaikan Tarmizi saat membuka program pelatihan persiapan kerja ke Jepang yang diikuti 60 pemuda Aceh Barat, Kamis, 8 Oktober 2026. Para peserta akan mengikuti pelatihan selama tiga bulan sebelum menjalani proses penempatan melalui jalur resmi.
“Anak-anak muda kita tidak hanya kita bekali dengan kemampuan bahasa Jepang, tetapi juga pemahaman tentang budaya, disiplin, dan kehidupan di Jepang. Ini penting agar mereka memiliki kesiapan ketika nantinya bekerja dan tinggal di negara tersebut,” kata Tarmizi.
Ia mengatakan pengalaman bekerja di luar negeri dapat menjadi modal penting bagi generasi muda untuk memperluas wawasan dan membangun pola pikir yang lebih terbuka. Karena itu, peserta diharapkan mampu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mempersiapkan masa depan, bukan sekadar mengejar penghasilan.
“Harapan kita, mereka pulang nanti bukan hanya membawa penghasilan, tetapi juga pengalaman, kedisiplinan, dan pola pikir yang lebih maju. Mereka harus menjadi anak-anak muda yang visioner dan memiliki semangat untuk meraih cita-cita,” ujarnya.
Sebanyak 60 peserta akan mendapatkan pembekalan bahasa Jepang, pemahaman budaya, serta pengetahuan mengenai kehidupan dan dunia kerja di Jepang. Pelatihan melibatkan instruktur berpengalaman dari Banda Aceh dan didukung instruktur dari Aceh Barat.
Pembekalan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesiapan peserta menghadapi lingkungan kerja dan kehidupan di negara tujuan. Selain kemampuan bahasa, peserta juga diperkenalkan dengan budaya serta tata kehidupan masyarakat Jepang.
Tarmizi mengingatkan peserta agar tidak mengambil jalan pintas dalam proses keberangkatan. Ia meminta calon pekerja migran memastikan seluruh tahapan dilakukan melalui jalur resmi untuk memperoleh perlindungan dan menghindari persoalan di kemudian hari.
“Jangan pernah tergiur berangkat melalui agen atau jalur yang tidak resmi. Pastikan seluruh proses dilakukan melalui jalur resmi agar mereka mendapatkan perlindungan dan terhindar dari persoalan di kemudian hari,” katanya.
Program tersebut dilaksanakan melalui kerja sama dengan Kampus AKN, Kementerian melalui Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI), serta Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk (Disnakermobduk) Aceh.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk memastikan proses persiapan dan penempatan calon pekerja migran mengikuti prosedur yang berlaku. Peserta juga diharapkan memperoleh informasi dan pendampingan sejak pelatihan hingga proses keberangkatan.
Tarmizi berharap program tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi pemuda Aceh Barat bekerja dan memperoleh pengalaman di luar negeri.
“Ke depan, kita berharap semakin banyak anak-anak Aceh Barat yang bisa bekerja di luar negeri melalui jalur resmi. Tidak hanya Jepang, tetapi juga negara-negara lain yang memberikan peluang kerja bagi tenaga kerja kita,” ujarnya.
Menurut penyelenggara, pengalaman bekerja di luar negeri diharapkan memberikan manfaat bagi peserta dan keluarga. Selain memperoleh penghasilan, peserta dapat belajar mengenai budaya kerja, kedisiplinan, tanggung jawab, dan lingkungan sosial yang berbeda.
Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pemuda Aceh Barat sekaligus memperluas akses terhadap kesempatan kerja internasional melalui mekanisme yang resmi dan sesuai ketentuan.
Masyarakat juga diimbau berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan di luar negeri yang tidak jelas asal-usul dan prosedurnya. Calon pekerja migran diminta memastikan informasi pekerjaan, proses perekrutan, serta penempatan dilakukan melalui pihak dan mekanisme yang resmi.***











