Byklik.com | Lhoksukon – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama jajaran komisaris dan direksi PT Pema Global Energi (PGE) meninjau langsung operasional Wilayah Kerja (WK) B pada 13–14 Oktober 2026 untuk mengevaluasi progres kegiatan, mengidentifikasi kendala, dan mendorong peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) di Aceh.
Kunjungan lapangan atau field visit tersebut melibatkan Kepala BPMA Mawardi Nur, Deputi Dukungan Bisnis BPMA Edy Kurniawan, Komisaris Utama PGE Sunny Ikbal beserta jajaran komisaris, Direktur Utama PGE Firdaus Noezula, General Manager PGE Andika Mahardika bersama pimpinan fungsi dan tim teknis operasional WK B di Point A.
Turut hadir Manager Migas, Minerba dan EBTKE PT PEMA Perseroda Al Maiyani beserta jajaran serta pimpinan dan tenaga teknis BPMA.
Kepala BPMA Mawardi Nur mengatakan, sejak dilantik, dirinya menekankan pentingnya evaluasi progres kegiatan, penyelesaian kendala operasional, dan percepatan pencapaian target produksi nasional.
“Ada tiga agenda utama yang menjadi perhatian kami, yaitu percepatan pengelolaan sumur minyak masyarakat, peningkatan lifting migas, serta penguatan peran pelaku usaha lokal dan sumber daya manusia (SDM) Aceh,” ujar Mawardi, dalam keterangan tertulis, Kamis, 15 Oktober 2026.
Menurutnya, ketiga agenda tersebut membutuhkan kerja keras dan koordinasi berbagai pihak agar Aceh dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produksi migas nasional.
Upaya tersebut, lanjut Mawardi, sejalan dengan arahan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengoptimalkan potensi hulu migas di Aceh. Pengelolaan sumber daya alam secara optimal diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.
Ia juga menegaskan BPMA terus berkoordinasi dengan SKK Migas untuk mengawal tindak lanjut penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) sumur minyak masyarakat. Selain itu, BPMA mendorong Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) agar kegiatan operasional memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui keterlibatan tenaga kerja, kontraktor lokal, dan program pemberdayaan yang tepat sasaran.
Dalam kunjungan tersebut, Mawardi turut menekankan lima aspek utama yang harus menjadi perhatian, yakni keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan, keandalan produksi dan disiplin program kerja, tata kelola serta keandalan data, peningkatan manfaat bagi daerah, serta penguatan koordinasi untuk menyelesaikan hambatan operasional.
Sementara itu, Direktur Utama PGE Firdaus Noezula mengatakan, kunjungan lapangan menjadi kesempatan bagi manajemen dan regulator untuk melihat langsung kondisi operasional sekaligus memahami tantangan yang dihadapi tim di lapangan.
“Bagi kami, ada tiga hal penting, yaitu profesionalisme dengan mengutamakan keselamatan dan lingkungan, kolaborasi dan sinergi dengan BPMA, serta memastikan keberadaan PGE memberikan dampak nyata bagi masyarakat Aceh,” ungkap Firdaus.
Ia menegaskan, keberhasilan PGE tidak hanya diukur dari capaian operasional, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat dan daerah, termasuk warisan positif bagi generasi mendatang.
Firdaus turut mengutip hadih maja, ungkapan bijak dalam bahasa Aceh yang menekankan pentingnya menjaga kebaikan dan meninggalkan jejak bagi generasi berikutnya.
“Get ta peubuet, get beunalah, nyang get takubah keu aneuk cucoe, menyoe han tinggai meubayyinah, panena leumah geutanyoe awai na,” ungkapnya.
Ungkapan tersebut bermakna bahwa hal-hal baik harus dilakukan dan dipertahankan serta diwariskan kepada anak cucu. Tanpa bukti atau jejak yang ditinggalkan, generasi mendatang akan kesulitan mengetahui kontribusi yang pernah diberikan pendahulunya.
Melalui kunjungan tersebut, BPMA dan PGE berkomitmen memperkuat sinergi untuk mengoptimalkan produksi migas, menjaga keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan, serta meningkatkan kontribusi industri hulu migas terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Aceh.











