Uncategorized

BAA Siapkan 79 Program Pelatihan 2027, Dampak Jadi Ukuran

Raudhatul
×

BAA Siapkan 79 Program Pelatihan 2027, Dampak Jadi Ukuran

Sebarkan artikel ini
Direktur Banda Aceh Academy (BAA) Almer Havis Sandy menyampaikan materi terkait Banda Aceh Academy dan kolaborasi pelatihan. [Foto: Raudhah/Byklik.com]

Byklik.com | Banda Aceh – Banda Aceh Academy (BAA) menyiapkan 79 program pelatihan dengan 80 slot kegiatan untuk 2027. Program tersebut diarahkan untuk mengembangkan talenta yang tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam dunia kerja maupun kegiatan usaha.

Direktur Banda Aceh Academy, Almer Hafis Sandy, mengatakan keberhasilan program pelatihan tidak cukup diukur dari jumlah peserta dan kegiatan yang terlaksana. BAA juga akan mengevaluasi dampak pelatihan terhadap perkembangan peserta setelah program berakhir.

“Kunci utamanya adalah karena penduduk Banda Aceh 74 persennya Gen Z,” kata Almer saat menyampaikan materi dalam kegiatan BAA Idea Lab Focus Group Discussion (FGD) di Balai Keurukoen, Gedung B, Balai Kota Banda Aceh, Kamis, 8 Oktober 2026.

Menurut Almer, besarnya populasi generasi Z menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai perkembangan dunia kerja dan kebutuhan industri.

Karena itu, BAA akan memantau perkembangan peserta untuk mengetahui sejauh mana keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan dalam kehidupan maupun aktivitas ekonomi.

“Setiap talent akan diukur impact-nya selama tiga bulan, enam bulan, dan seterusnya,” ujarnya.

Pengukuran tersebut diharapkan dapat menunjukkan manfaat nyata pelatihan, mulai dari peningkatan kapasitas diri dan kesiapan memasuki dunia kerja hingga kemampuan membuka atau mengembangkan usaha.

Untuk mendukung target tersebut, BAA menyusun program berdasarkan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Penentuan program prioritas mempertimbangkan kompetensi yang dibutuhkan, hasil yang ingin dicapai, serta kesiapan mitra pelaksana.

Baca Juga  Hujan Deras, TNI Cek Jembatan Aramco Mesidah

Program pelatihan BAA dirancang melalui enam akademi, yakni Skill Academy, Entrepreneur Academy, Short Course Academy, Startup Academy, ASN Academy, dan Non Sertifikasi Academy.

Almer menjelaskan, penyusunan program dan kurikulum menggunakan pendekatan Training Need Assessment (TNA) untuk mengidentifikasi kesenjangan antara kompetensi yang telah dimiliki masyarakat dan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.

Melalui rangkaian FGD, BAA menghimpun masukan dari berbagai pemangku kepentingan, mulai dari dunia usaha dan dunia industri (DUDI), UMKM, perusahaan swasta dan BUMN, asosiasi, komunitas, organisasi kepemudaan, lembaga kemasyarakatan, perguruan tinggi, sekolah, lembaga pelatihan, organisasi perangkat daerah (OPD), hingga lembaga keuangan.

Masukan tersebut menjadi bahan untuk memastikan program pelatihan lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Sejumlah peserta FGD menekankan pentingnya keseimbangan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap, termasuk penguatan soft skill, kesiapan memasuki lingkungan kerja, serta peningkatan porsi praktik.

Selain menyiapkan program yang relevan, BAA juga mendorong kolaborasi dengan lembaga kursus dan pelatihan (LKP) yang telah lebih dahulu berkiprah dalam pengembangan keterampilan masyarakat.

“BAA bukan kompetitor LKP. Kita bisa berkolaborasi nanti,” kata Almer.

Menurutnya, kolaborasi diperlukan agar pengembangan talenta di Banda Aceh tidak berjalan sendiri-sendiri. BAA diharapkan menjadi bagian dari ekosistem yang menghubungkan pemerintah, lembaga pelatihan, dunia usaha, komunitas, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Baca Juga  Kakanwil Kemenag Aceh Hadiri Shuling DKMA di Masjid Ar-Rahman Merduati

Dukungan terhadap pendekatan tersebut juga disampaikan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Banda Aceh. Sekretaris Disnaker Banda Aceh, Abdul Manaf, mendorong agar program BAA tidak hanya berorientasi mencetak calon tenaga kerja, tetapi juga menjawab kebutuhan dunia usaha dan meningkatkan kapasitas pekerja yang telah ada.

“Masukkan pelatihan apa yang diperlukan di usaha yang lebih baik. Dari situ bisa membantu kami untuk menyiapkan calon tenaga kerja,” ujar Abdul Manaf.

Ia menilai pemetaan kebutuhan dunia usaha penting agar keterampilan yang diajarkan memiliki peluang untuk diterapkan setelah peserta menyelesaikan pelatihan.

Abdul Manaf mencontohkan pelatihan pembuatan kue yang tidak semestinya berhenti pada penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga perlu membuka peluang bagi peserta untuk mengembangkan usaha mandiri.

“Misalnya kita buat pelatihan pembuatan kue, kita harapkan mereka bisa mengembangkan usaha seperti ini,” katanya.

Menurutnya, manfaat pelatihan akan lebih optimal jika kompetensi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan peluang pemasaran yang tersedia.

Dengan menyiapkan 79 program pelatihan untuk 2027, BAA diharapkan mampu memperkuat kualitas talenta di Banda Aceh. Namun, keberhasilan program tersebut pada akhirnya akan ditentukan oleh sejauh mana keterampilan peserta berkembang menjadi peluang kerja, peningkatan produktivitas, dan usaha yang berkelanjutan.