Ekonomi & Bisnis

Hilirisasi Nilam Dinilai Mampu Mengubah Rantai Pasok Nasional

Avatar
×

Hilirisasi Nilam Dinilai Mampu Mengubah Rantai Pasok Nasional

Sebarkan artikel ini
Minyak Nilam (patchouli oil). (Foto: shutterstock)

Byklik.com | Tangerang Selatan – Hilirisasi nilam berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi dinilai mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang besar sekaligus mentransformasi ekosistem rantai pasok industri nilam Indonesia.

Kepala Atsiri Research Center (ARC) PUIPT Nilam Universitas Syiah Kuala (USK), Syaifullah Muhammad, mengatakan hilirisasi akan memperluas ekosistem tata niaga nilam dengan semakin banyaknya aktor ekonomi yang terlibat di sektor hilir.

Hal itu disampaikan Syaifullah dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penguatan Rantai Nilai Minyak Atsiri Berbasis Nilam dan Cengkeh melalui Teknologi dan Hilirisasi untuk Meningkatkan Daya Saing Industri” yang digelar Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PR SIMB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kamis, 8 Oktober 2026.

FGD digelar secara hybrid di Auditorium Gedung 720, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie BRIN, Tangerang Selatan, dan melalui Zoom. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap riset “Valuasi Riset dan Inovasi Berbasis Industri dan Komoditas”.

Menurut Syaifullah, penguatan industri nilam tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi bahan baku. Indonesia perlu mendorong pemanfaatan teknologi untuk menghasilkan berbagai produk turunan bernilai ekonomi tinggi.

“Hilirisasi melalui inovasi teknologi dan rantai nilai industri nilam akan memberikan nilai tambah ekonomi yang luar biasa serta menciptakan ekosistem rantai pasok yang sehat secara berkelanjutan untuk stakeholders nilam Indonesia,” ujar Syaifullah.

Baca Juga  Target Produksi Gabah Tinggi di Tengah Penyusutan Lahan, Ini Solusi dari Akademisi Unimal

Ia menekankan, pengembangan industri nilam membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, pelaku industri, masyarakat hingga media.

“Stakeholders industri nilam Indonesia dari kalangan industri, pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat dan media harus berkolaborasi saling menguatkan sehingga memberikan dampak nilai tambah signifikan untuk ekonomi Indonesia,” katanya.

Syaifullah menilai Indonesia selama ini masih lebih banyak berada pada posisi sebagai pemasok bahan baku, sementara nilai ekonomi yang lebih besar justru dinikmati negara lain yang telah mengembangkan produk hilir minyak nilam.

“Selama ini nilai tambah ekonomi banyak dinikmati oleh negara lain yang lebih serius bergerak di produk hilir, sementara Indonesia hanya sebagai supplier bahan baku. Ini saatnya kita serius dengan hilirisasi,” tegasnya.

Ia berharap penguatan hilirisasi dapat menjadikan nilam bukan sekadar komoditas bahan baku, tetapi berkembang menjadi industri dengan rantai nilai yang lebih panjang dan memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat serta daerah penghasil.

FGD tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, peneliti, dan pelaku industri. Selain Syaifullah, hadir Dr. Egi Agustian, M.Eng. dari Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Dr. Suprapto, S.T., M.Sc. dari PT Natura Aromatik Nusantara, Arianto Mulyadi dari PT Indesso Aroma, serta Fuja Maulana dari CV Atar Aroma Atsiri.

Baca Juga  Banda Aceh Gandeng ILO Wujudkan Kota Parfum Berbasis Nilam

Diskusi dipandu Dr. Wahyu Zuli Pratiwi, S.T., M.T. selaku moderator.

Dalam pemaparannya, Egi Agustian membahas pengembangan teknologi ekstraksi dan purifikasi minyak atsiri, antara lain melalui steam distillation, molecular distillation, dan supercritical extraction menggunakan CO2.

Sementara itu, Suprapto dari PT Natura Aromatik Nusantara memaparkan aspek perdagangan internasional minyak nilam serta peluang pengembangan industri minyak atsiri Indonesia di pasar global.

FGD nasional BRIN tersebut membahas empat pilar utama pengembangan industri minyak atsiri nasional. Pertama, penguatan rantai nilai untuk memastikan manfaat ekonomi yang lebih adil bagi pelaku usaha dari sektor hulu hingga hilir.

Kedua, pengembangan teknologi dan hilirisasi untuk menghasilkan produk turunan minyak atsiri dengan kualitas dan nilai ekonomi lebih tinggi. Ketiga, kolaborasi multipihak antara pemerintah, peneliti, akademisi, dan dunia industri.

Keempat, peningkatan daya saing industri melalui penguatan standar dan kualitas produk agar minyak atsiri Indonesia semakin kompetitif di pasar internasional.

Melalui forum tersebut, BRIN dan para pemangku kepentingan diharapkan dapat merumuskan strategi serta peta jalan hilirisasi minyak atsiri berbasis nilam dan cengkeh yang mampu memberikan dampak nyata terhadap perekonomian nasional dengan mengoptimalkan komoditas lokal.