Byklik.com | Medan – Universitas Sumatera Utara (USU) melalui tim pakar multidisiplin terlibat dalam Program Pra-Studi Kelayakan Tahun Anggaran 2027 melalui skema Hilirisasi Riset-Dorongan Teknologi Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI).
Program tersebut mengkaji kesiapan teknologi SELCARE, platform digital berbasis web yang dikembangkan untuk mendukung deteksi dini, pemantauan, dan pelatihan fungsi kognitif pada lansia sebelum memasuki tahap hilirisasi.
Ketua Tim Pakar Prof. Dr. Reni Asmara Ariga, S.Kp., MARS., mengatakan kajian tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga menilai kesiapan SELCARE untuk dimanfaatkan secara lebih luas.
“Posisi kami bukan sekadar mengembangkan teknologinya, tetapi menilai apakah SELCARE sudah memiliki kesiapan yang memadai untuk masuk ke tahap hilirisasi,” kata Prof. Reni dalam keterangan tertulis, Kamis, 1 September 2026.
SELCARE mengintegrasikan AI Adaptive Cognitive Assessment, pemantauan kondisi pengguna secara longitudinal, dan Decision Support System. Integrasi tersebut memungkinkan platform memberikan rekomendasi latihan kognitif yang disesuaikan dengan kondisi pengguna serta membantu tenaga kesehatan dalam pengambilan keputusan.
Kajian dilakukan lima pakar dengan latar belakang keilmuan berbeda. Prof. Reni Asmara Ariga bertindak sebagai ketua tim sekaligus mengoordinasikan dan mengintegrasikan keseluruhan hasil kajian.
Tim juga melibatkan Dr. Erna Budhiarti Nababan, M.IT., sebagai pakar teknologi informasi dan kecerdasan buatan; Prof. Dr. Arlina Nurbaity Lubis, S.E., MBA., sebagai pakar manajemen pemasaran, pasar dan model bisnis; Prof. Dr. Khaira Amalia Fachrudin, S.E., Ak., MBA., sebagai pakar keuangan dan risiko; serta Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait, S.H., MLI., sebagai pakar regulasi dan legal.
Setiap pakar melakukan penilaian sesuai bidang keahliannya. Hasil kajian kemudian diintegrasikan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kesiapan SELCARE.
“Kolaborasinya bersifat multidisiplin. Setiap pakar melakukan kajian sesuai kompetensinya, kemudian hasilnya kami integrasikan dalam satu kerangka penilaian kelayakan,” ujar Prof. Reni.
Kajian mencakup kesiapan teknologi dan aspek teknis, kebutuhan pasar dan model bisnis, keuangan serta kelayakan ekonomi, risiko, legal dan regulasi, hingga strategi hilirisasi.
Pada aspek teknis, tim menilai kesiapan teknologi beserta bukti validasinya. Sementara aspek pasar dan bisnis mencakup kebutuhan pengguna, kondisi pasar, kompetitor, model bisnis, dan peluang komersialisasi.
Tim juga mengkaji kebutuhan investasi, biaya, potensi pendapatan, serta kelayakan ekonomi. Aspek risiko dan legal mencakup perlindungan kekayaan intelektual, perizinan, serta kepatuhan terhadap regulasi.
“Kami harus membuktikan kesiapan teknis, kebutuhan pasar, model bisnis, aspek regulasi, kelayakan finansial, serta risiko implementasinya. Jadi, inovasi harus dibuktikan dengan evidence, bukan hanya klaim,” tegas Prof. Reni.
SELCARE berpotensi dikembangkan untuk mendukung layanan kesehatan lansia di berbagai lingkungan, antara lain puskesmas, posyandu lansia, klinik, rumah sakit, panti wreda, hingga layanan kesehatan berbasis komunitas.
Tim juga akan menggelar Focus Group Discussion (FGD) dan business matching untuk mempertemukan teknologi tersebut dengan calon pengguna maupun mitra yang berpotensi mendukung proses hilirisasi.
Hasil seluruh kajian nantinya dituangkan dalam Pra-Studi Kelayakan sebagai dasar untuk menentukan langkah pengembangan SELCARE berikutnya, termasuk aspek teknologi yang masih perlu diperkuat, calon pengguna dan mitra, model implementasi, serta strategi pengurangan risiko.
“Output akhirnya bukan sekadar menyatakan teknologi ini layak atau tidak layak, tetapi memberikan rekomendasi yang operasional: apa yang harus diperbaiki, siapa calon pengguna atau mitranya, model implementasinya, kebutuhan pengembangan berikutnya, serta strategi untuk mengurangi risiko sebelum masuk ke tahap hilirisasi,” tutur Prof. Reni.











