Byklik.com | Banda Aceh – Neraca perdagangan luar negeri Provinsi Aceh mengalami defisit USD 8,67 juta pada Agustus 2026. Kondisi itu terjadi setelah nilai impor lebih tinggi dibandingkan ekspor pada periode yang sama.
Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat nilai impor Aceh pada Agustus 2026 mencapai USD 82,67 juta, sedangkan ekspor komoditas asal Aceh sebesar USD 74 juta.
Kepala BPS Aceh, Agus Andria, mengatakan nilai ekspor tersebut turun 11,49 persen dibandingkan Juli 2026 yang mencapai USD 83,59 juta. Namun, secara tahunan ekspor masih tumbuh 29,54 persen dibandingkan Agustus 2025.
“Dengan nilai impor yang lebih besar dibandingkan nilai ekspor, neraca perdagangan luar negeri Provinsi Aceh pada bulan Agustus 2026 mengalami defisit sebesar USD 8,67 juta,” kata Agus, Kamis, 1 Oktober 2026.
Dari total ekspor senilai USD 74 juta, sekitar USD 59,19 juta atau 79,99 persen dikirim melalui pelabuhan di Aceh. Sementara USD 14,81 juta lainnya diekspor melalui pelabuhan di luar provinsi.
Sumatera Utara menjadi wilayah pelabuhan utama di luar Aceh yang digunakan untuk pengiriman komoditas ekspor, dengan nilai mencapai USD 14,63 juta.
Berdasarkan negara tujuan, India menjadi pasar ekspor terbesar bagi komoditas asal Aceh pada Agustus 2026. Nilai ekspor ke negara tersebut mencapai USD 56,34 juta.
“Ekspor asal Aceh selama bulan Agustus 2026 paling besar ditujukan ke India senilai USD 56,34 juta dengan komoditas batu bara, CPO, dan berbagai produk kimia,” ujar Agus.
Amerika Serikat menyusul sebagai negara tujuan ekspor kedua dengan nilai USD 7,85 juta. Komoditas yang dikirim ke negara tersebut didominasi kopi dan rempah-rempah.
“Thailand berada di posisi ketiga dengan nilai ekspor USD 2,78 juta. Komoditas yang dikirim meliputi batu bara, daging dan ikan olahan, serta kopi dan rempah-rempah,” lanjutnya.
Berdasarkan jenis komoditas, batu bara menjadi salah satu penopang utama ekspor Aceh dengan nilai USD 44,08 juta. Ekspor juga ditopang lemak dan minyak hewan atau nabati, termasuk CPO, serta kopi dan rempah-rempah.
Berbeda dengan ekspor yang turun secara bulanan, nilai impor Aceh pada Agustus 2026 meningkat menjadi USD 82,67 juta atau naik 0,96 persen dibandingkan Juli 2026.
Kenaikan impor jauh lebih tinggi secara tahunan. Dibandingkan Agustus 2025, nilai impor Aceh melonjak 176,51 persen.
Amerika Serikat menjadi negara asal barang impor terbesar dengan nilai USD 76,06 juta. Nilai tersebut didominasi komoditas gas propana atau butana.
“Jika dilihat berdasarkan negara asal, impor terbesar bulan Agustus 2026 berasal dari Amerika Serikat senilai USD 76,06 juta dengan komoditas gas propana atau butana,” katanya.
Gas propana atau butana menyumbang sekitar 92,01 persen dari keseluruhan nilai impor Aceh pada Agustus 2026.
India menjadi negara asal impor terbesar kedua dengan nilai USD 3,89 juta, yang didominasi bahan kimia anorganik. Malaysia menyusul dengan nilai USD 2,32 juta, terutama untuk komoditas mesin atau pesawat mekanik.
Perbedaan pergerakan ekspor dan impor tersebut membuat perdagangan luar negeri Aceh pada Agustus 2026 berada dalam kondisi defisit. Ekspor turun secara bulanan meski masih tumbuh secara tahunan, sementara impor meningkat secara bulanan dan melonjak secara tahunan.











