Teknologi & Sains

Murid SNT 7 Bogor Ciptakan Smart Border lewat STEM

Bambang Iskandar Martin
×

Murid SNT 7 Bogor Ciptakan Smart Border lewat STEM

Sebarkan artikel ini
Murid Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 7 Bogor menciptakan prototipe smart border berbasis sensor melalui pembelajaran Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). (Foto: Dok. Kemendikdasmen)

Byklik.com | Bogor – Murid Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 7 Bogor menciptakan prototipe smart border berbasis sensor melalui pembelajaran Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

Proyek tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang mengajak murid menerapkan pengetahuan lintas mata pelajaran untuk menyelesaikan persoalan nyata.

Kepala SNT 7 Bogor, Fitriyani, mengatakan pengembangan STEM dan pembelajaran interdisipliner merupakan bagian dari kekhasan SNT sekaligus mendukung pencapaian visi satuan pendidikan.

“Latar belakang SNT 7 Bogor mengembangkan program STEM dan pembelajaran interdisipliner karena ini merupakan kekhasan dari SNT dan juga merupakan salah satu bagian terpenting untuk mewujudkan visi SNT,” ujar Fitriyani dalam keterangan yang disampaikan Senin, 28 September 2026.

Menurut Fitriyani, program tersebut mulai diterapkan setelah masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) dan prastudi selesai. Penerapannya berlangsung sejak awal pembelajaran di SNT 7 Bogor pada September 2026.

Proyek STEM dari SMP hingga SMA

Di jenjang SMP, salah satu proyek yang dikembangkan adalah “Misi Kurir Kemerdekaan” yang menggabungkan Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, dan Matematika.

Melalui proyek tersebut, murid mempelajari informasi mengenai kabar kemerdekaan dan Proklamasi Indonesia. Mereka juga menghitung luas bahan yang dibutuhkan untuk membuat wadah yang dapat melindungi teks Proklamasi dari air dan tekanan selama perjalanan.

Fitriyani mengatakan perhitungan matematis kemudian digunakan murid dalam merancang wadah pelindung. Dengan pendekatan tersebut, konsep sejarah, bahasa, dan matematika diterapkan dalam satu persoalan yang kontekstual.

Di jenjang SMA, terdapat proyek “Site Plan Ruang Terbuka Adaptif” yang mengintegrasikan IPA, Bahasa Indonesia, Matematika, dan Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK).

Baca Juga  Wamen Nezar Ingatkan Bahaya 'Penjajahan Algoritma' Digital

Murid kelas X menganalisis fenomena urban heat island, memodelkan data melalui diagram pencar, serta menyusun laporan multimodal. Hasil analisis digunakan untuk merancang ruang terbuka adaptif sebagai bagian dari upaya mitigasi dampak krisis iklim dan mendukung kebugaran jasmani.

Proyek lainnya, “Teknologi Tapal Batas”, memadukan Pendidikan Pancasila, Koding dan Kecerdasan Artifisial, Informatika, serta Fisika.

Dalam proyek ini, murid mempelajari konsep kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), prinsip gelombang ultrasonik, penyusunan pseudocode, dan pemrograman Arduino.

Hasilnya berupa prototipe smart border berbasis sensor yang dapat mendeteksi objek secara otomatis dan waktu nyata.

Fitriyani mengatakan proses tersebut turut mengembangkan kemampuan murid dalam melakukan troubleshooting, berpikir logis dan sistematis, serta menerapkan pengukuran dalam kegiatan ilmiah.

“Perubahan yang terlihat dari murid setelah mengikuti pembelajaran STEM, khususnya tema 4, adalah meningkatnya kemampuan troubleshooting, berpikir logis dan sistematis, serta mampu menerapkan sistem pengukuran dalam kerja ilmiah melalui perancangan, pengukuran jarak menggunakan sensor ultrasonik, pengujian akurasi, serta analisis faktor yang memengaruhi hasil pengukuran pada siswa SMA kelas X,” kata Fitriyani.

Saat ini, murid SNT 7 Bogor masih mengembangkan gagasan mengenai penerapan teknologi tersebut di lingkungan satuan pendidikan maupun masyarakat.

Menurut Fitriyani, pendekatan STEM juga membuat murid lebih aktif selama proses pembelajaran.

“Sebetulnya tepat sekali pendekatan STEM ini membuat anak aktif, antusias, eksploratif, inisiatif dan inovatif, kolaboratif. Pada akhirnya, pembelajaran mendalam yang diharapkan dapat terlaksana sesuai tujuan,” ujarnya.

Baca Juga  Waspada! Situs Ecustoms.id Bukan Milik Pemerintah, Berpotensi Curi Data

STEM Menghubungkan Berbagai Disiplin Ilmu

Selain STEM, SNT 7 Bogor menerapkan pembelajaran interdisipliner dengan menggabungkan sejumlah mata pelajaran untuk membantu murid memahami persoalan secara lebih utuh.

Di jenjang SMP, salah satu proyek mengangkat tema “Bersama Membangun Digital Positif” yang mengintegrasikan Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Informatika, serta Koding dan Kecerdasan Artifisial.

Dalam proyek tersebut, murid menganalisis persoalan etika digital dan menyusun kampanye positif dalam bentuk poster atau infografis.

Ada pula tema “Bio Detective: Biodiversitas Tersembunyi” yang menggabungkan IPA dan Seni Rupa. Murid berperan sebagai “detektif biologi” dengan memanfaatkan gawai dan teknologi kecerdasan artifisial, seperti Gemini, Google Lens, dan Seek by iNaturalist.

Teknologi tersebut digunakan untuk mengamati, mengidentifikasi, dan mengklasifikasikan keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah. Hasil pengamatan kemudian diolah menjadi infografis digital dan dipamerkan melalui kegiatan gallery walk.

Fitriyani mengatakan STEM, pembelajaran interdisipliner, dan pembelajaran mendalam saling berkaitan dalam proses pembelajaran.

“Hubungan STEM, pembelajaran interdisipliner dan pembelajaran mendalam sangat erat kaitannya. Melalui STEM, masalah tersaji secara kontekstual atau nyata, sedangkan pembelajaran interdisipliner memadukan berbagai disiplin ilmu untuk menyelesaikan masalah. Pembelajaran mendalam terbentuk saat siswa berpikir kritis untuk menciptakan solusi,” tuturnya.

Berbagai proyek tersebut menjadi bagian dari upaya SNT 7 Bogor menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Murid tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga menerapkannya untuk menganalisis persoalan, menguji gagasan, dan menghasilkan solusi.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendukung penerapan pembelajaran mendalam di lingkungan SNT 7 Bogor.***