Headline

Psikolog Lhokseumawe Susun Modul Lawan Stigma Anak ADHD

Bambang Iskandar Martin
×

Psikolog Lhokseumawe Susun Modul Lawan Stigma Anak ADHD

Sebarkan artikel ini
Aini Shafra Anwar, S.Psi., M.Psi., Psikolog Klinis UPTD Puskesmas Muara Dua, Kota Lhokseumawe memberi konseling kepada orang tua anak ADHD guna mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak ADHD melalui langkah-langkah belajar yang menyenangkan, terarah, dan sesuai dengan keunikannya. (Foto: Dok. Dinkes Aceh)

Byklik.com | Lhokseumawe – Anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) kerap dicap nakal atau malas belajar karena mengalami kesulitan berkonsentrasi dan mengendalikan perilaku. Psikolog klinis UPTD Puskesmas Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Aini Shafra Anwar, S.Psi., M.Psi., menyusun modul pembelajaran untuk membantu pendidik dan tenaga pendamping memahami kondisi serta kebutuhan belajar anak dengan ADHD.

Modul berjudul Pembelajaran Kesulitan Belajar: Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) tersebut memuat panduan untuk mengenali karakteristik ADHD, memahami kesulitan belajar yang dihadapi anak, dan menentukan strategi pendampingan yang sesuai.

Dalam modul tersebut, Aini menjelaskan ADHD sebagai gangguan neurobiologis yang dapat memengaruhi kemampuan memusatkan perhatian dan mengendalikan impuls, serta dapat disertai hiperaktivitas.

Kondisi tersebut umumnya muncul sejak masa kanak-kanak dan pada sebagian orang dapat berlanjut hingga dewasa, terang Aini sebagaimana dikutip dari laman Dinas Kesehatan Aceh, Selasa, 29 September 2026.

Di lingkungan sekolah, anak dengan ADHD dapat mengalami kesulitan mempertahankan perhatian, mengikuti instruksi, mengatur waktu, memperhatikan detail, hingga menyelesaikan tugas.

Menurutnya, kesulitan itu berkaitan dengan fungsi eksekutif, termasuk perhatian dan memori kerja. Karena itu, perilaku anak tidak semestinya langsung dianggap sebagai bentuk kemalasan atau ketidakmampuan belajar.

ADHD juga dapat muncul bersamaan dengan kondisi lain, termasuk gangguan belajar spesifik. Pendampingan karena itu perlu mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan setiap anak.

Kenali Tiga Pola Gejala ADHD

Modul Aini menguraikan tiga pola utama gejala ADHD, yaitu inatensi, hiperaktivitas-impulsivitas, serta kombinasi keduanya.

Pada pola inatensi, anak dapat mudah teralihkan, sulit mempertahankan perhatian, sering kehilangan barang, tidak menyimak ketika diajak berbicara, dan mengalami kesulitan mengorganisasi tugas.

Pola hiperaktivitas-impulsivitas dapat ditandai dengan perilaku gelisah, sulit duduk diam, banyak bicara, menyela percakapan, sulit menunggu giliran, atau bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensi.

Baca Juga  Banda Aceh Gandeng Grasse Prancis, Perkuat Posisi Kota Parfum Indonesia

Sementara pola kombinasi ditandai dengan munculnya gejala inatensi dan hiperaktivitas-impulsivitas secara bersamaan.

Namun, satu perilaku saja tidak cukup untuk menentukan ADHD. Penilaian perlu mempertimbangkan durasi dan jumlah gejala, usia saat gejala mulai muncul, keberadaan gejala di lebih dari satu lingkungan, serta dampaknya terhadap fungsi sosial dan pendidikan.

Pengenalan dan penilaian kondisi tersebut perlu dilakukan oleh tenaga profesional yang memiliki kompetensi di bidang terkait.

Strategi Belajar Perlu Disesuaikan

Aini menekankan strategi pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak, bukan memaksa mereka mengikuti pola belajar yang sama dengan teman sebaya.

Instruksi yang sederhana, langsung, dan spesifik dapat membantu anak memahami tugas. Pekerjaan yang kompleks juga dapat dipecah menjadi beberapa langkah kecil agar lebih mudah diselesaikan.

Alat bantu visual, seperti bagan, kartu, dan pengingat, dapat digunakan untuk membantu mempertahankan perhatian anak. Pendekatan multisensori juga dapat diterapkan dengan mengombinasikan benda konkret, gambar, suara, gerakan, dan aktivitas langsung.

Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu anak mengatur waktu dan menyelesaikan tugas, misalnya melalui kalender, aplikasi pengingat, alarm, dan daftar tugas.

Selain aspek akademik, dukungan emosional menjadi bagian penting dalam pendampingan. Guru dan orang tua dapat membangun rutinitas yang konsisten, menyediakan lingkungan belajar dengan gangguan seminimal mungkin, serta memberikan instruksi yang jelas.

Penguatan positif dapat diberikan dengan mengapresiasi usaha, kemajuan, kekuatan, dan potensi anak.

Guru dan Orang Tua Perlu Bersinergi

Pendampingan anak dengan ADHD tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Keluarga, guru, konselor, dan tenaga kesehatan perlu berkomunikasi agar pendekatan yang diberikan berjalan konsisten.

Guru dapat membagi tugas menjadi beberapa tahapan, memberikan instruksi singkat, menciptakan lingkungan kelas yang mendukung, serta memberikan penguatan ketika anak menunjukkan kemajuan.

Baca Juga  Kapolri Mutasi Andi Kirana dari Kapolresta Banda Aceh

Di rumah, orang tua dapat membantu melalui rutinitas belajar, bermain, dan tidur yang teratur. Komunikasi dengan guru dan konselor juga diperlukan untuk memantau perkembangan anak.

Pendekatan tersebut sejalan dengan layanan anak berkebutuhan khusus (ABK) yang dikembangkan UPTD Puskesmas Muara Dua, Kota Lhokseumawe.

Sebagai psikolog klinis di fasilitas kesehatan tersebut, Aini memberikan konseling kepada orang tua anak dengan ADHD untuk membantu mengoptimalkan potensi anak melalui kegiatan belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhannya.

Layanan ABK di Puskesmas Muara Dua mencakup konseling orang tua, terapi, pelacakan ABK, pemantauan ke desa, serta jejaring dengan sekolah luar biasa dan dokter spesialis anak.

Selain menjalankan layanan tersebut, Aini juga membuka Klinik Aneuk Lon–Developmental Care di Kota Lhokseumawe yang berfokus pada tumbuh kembang anak.

Layanan tersebut mencakup anak dengan autisme, ADHD, gangguan perilaku dan emosi, gangguan komunikasi, serta kondisi lainnya. Bentuk pendampingan disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing anak.

ADHD Bukan Aib

Modul tersebut menekankan bahwa ADHD bukan aib. Anak membutuhkan pemahaman, dukungan, dan lingkungan yang membantu mereka berkembang.

Orang tua didorong mempelajari kondisi anak dan berdialog dengan tenaga profesional untuk membangun lingkungan yang aman serta mendukung di rumah maupun sekolah.

Dengan strategi belajar yang terstruktur, dukungan emosional, penguatan positif, serta kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan, pendampingan dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak.

Melalui penyusunan modul tersebut, Aini berupaya memperkuat pemahaman pendidik dan tenaga pendamping mengenai karakteristik serta kebutuhan belajar anak dengan ADHD.

Memahami anak bukan hanya melihat kesulitan yang dihadapinya, tetapi juga mengenali kekuatan dan potensi yang dapat dikembangkan melalui pendekatan yang sesuai.***