Nasional

Karhutla Berdampak pada 10,67 Juta Warga di Tujuh Provinsi

Avatar
×

Karhutla Berdampak pada 10,67 Juta Warga di Tujuh Provinsi

Sebarkan artikel ini
Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Saksono Harbuwono. [Foto: Kemenkes]

Byklik.com | Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperkuat respons kesehatan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat terdampak tetap memperoleh pelayanan kesehatan sekaligus terlindungi dari risiko paparan asap.

Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Saksono Harbuwono menyampaikan perkembangan penanganan dampak kesehatan Karhutla dalam media briefing di Gedung Adhyatma, Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026.

Berdasarkan Situation Report Kemenkes per 27 Agustus 2026, Karhutla telah berdampak pada tujuh provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.

Total penduduk terdampak mencapai 10.674.201 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 123 orang mengalami luka berat atau menjalani rawat inap, sedangkan dua orang mengalami luka ringan atau menjalani rawat jalan. Hingga laporan diperbarui, tidak tercatat korban meninggal maupun pengungsi.

“Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama akibat paparan asap dan partikulat. Karena itu, kita perlu memastikan masyarakat terlindungi dan pelayanan kesehatan tetap siap,” ujar Prof. Dante.

Baca Juga  Jaksa Agung Lantik Puluhan Pejabat, Tekankan Integritas dan Transformasi Kinerja

Gangguan saluran pernapasan menjadi dampak kesehatan yang paling banyak ditemukan. Data Kemenkes mencatat 4.082 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada 27 Agustus 2026, dengan total kumulatif mencapai 13.449 kasus.

Kasus tersebut tersebar di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi yang terdampak Karhutla.

Selain ISPA, paparan asap Karhutla dapat memicu batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), serta iritasi mata dan kulit. Paparan polusi dalam jangka tertentu juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, terutama bagi kelompok rentan.

“Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan,” lanjut Prof. Dante.

Kualitas Udara Sejumlah Wilayah Sangat Tidak Sehat

Kondisi kualitas udara di sejumlah daerah terdampak turut menjadi perhatian pemerintah. Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada 27 Agustus 2026 pukul 16.26 WIB, beberapa wilayah berada dalam kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya, dengan PM2.5 menjadi parameter kritis.

Baca Juga  Prancis Apresiasi Kemajuan Ketahanan Pangan Indonesia

Pontianak, Kalimantan Barat, tercatat memiliki nilai ISPU 328 atau masuk kategori berbahaya. Sementara Kabupaten Tebo, Jambi, mencatat nilai 287, Barito Selatan, Kalimantan Tengah, 274, Katingan 258, serta Kabupaten Pali, Sumatera Selatan, 255. Keempat wilayah tersebut berada dalam kategori sangat tidak sehat.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena peningkatan konsentrasi partikulat PM2.5 dapat memperbesar risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap paparan polusi udara.

Untuk memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah terdampak, pemerintah daerah bersama Kemenkes juga melakukan mobilisasi tenaga kesehatan.

Hingga 27 Agustus 2026 pukul 15.00 WIB, sebanyak 848 tenaga kesehatan telah dimobilisasi ke tujuh provinsi terdampak Karhutla. Mereka terdiri atas dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, analis, tenaga farmasi, epidemiolog, sanitarian, serta tenaga pendukung lainnya.

Mobilisasi tersebut dilakukan untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan sekaligus memperkuat penanganan masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat dampak Karhutla dan paparan asap.