Berita Utama

Aceh Besar Siaga Kekeringan, Ribuan Hektare Sawah Terdampak Parah

Avatar
×

Aceh Besar Siaga Kekeringan, Ribuan Hektare Sawah Terdampak Parah

Sebarkan artikel ini
Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris menetapkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi kering dengan memimpin Apel Siaga Bencana di Lapangan Bungong Jeumpa, Kota Jantho, Rabu, 5 Agustus 2026. [Foto: Prokopim Aceh Besar]

Byklik.com | Jantho – Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris menetapkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi kering dengan memimpin Apel Siaga Bencana di Lapangan Bungong Jeumpa, Kota Jantho, Rabu, 5 Agustus 2026. Pemerintah mencatat kekeringan telah melanda 19 kecamatan dan berdampak pada 2.125,69 hektare lahan persawahan.

Apel siaga tersebut dihadiri Wakil Bupati Aceh Besar Drs. H. Syukri, unsur Forkopimda, Basarnas, TNI, Polri, BPBA, para asisten Setdakab, kepala OPD, camat, serta para pemangku kepentingan lainnya.

Dalam amanatnya, Muharram Idris menegaskan apel siaga bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk kesiapsiagaan pemerintah daerah bersama seluruh pihak dalam menghadapi ancaman kekeringan yang mulai memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.

Menurutnya, Kabupaten Aceh Besar yang mengandalkan sektor pertanian sebagai penopang utama perekonomian kini menghadapi ancaman serius. Kekeringan tidak hanya mengurangi ketersediaan air bersih, tetapi juga mengancam produktivitas pertanian, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga  Ribuan Warga Hadiri Open House Iduladha Bupati Aceh Besar

Berdasarkan pendataan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, hingga saat ini kekeringan telah terjadi di 19 kecamatan yang mencakup 182 gampong. Luas sawah terdampak mencapai sekitar 2.125,69 hektare, mulai dari kategori kekeringan ringan, sedang, berat hingga puso.

“Data tersebut menjadi peringatan bahwa ancaman kekeringan bukan lagi sekadar prediksi, tetapi telah menjadi kondisi nyata yang memerlukan langkah cepat, tepat, dan terkoordinasi,” kata Muharram.

Ia juga mengingatkan bahwa berdasarkan informasi BMKG, musim kemarau 2026 diperkirakan lebih kering dibandingkan kondisi normal. Selain itu, potensi berkembangnya fenomena El Niño pada pertengahan hingga akhir tahun diperkirakan dapat memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.

Muharram menambahkan, BNPB juga telah mengingatkan pemerintah daerah untuk memperkuat mitigasi melalui pengamanan ketersediaan air bersih, perlindungan sektor pertanian, peningkatan koordinasi lintas sektor, serta kesiapan menghadapi kondisi darurat.

Baca Juga  Bantuan Islamic Relief Tembus Lhokseumawe Setelah Pelayaran 20 Jam

Selain kekeringan, Aceh Besar juga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah mencatat telah terjadi 30 kejadian karhutla dengan total luas lahan terdampak mencapai 21 hektare.

Menghadapi kondisi tersebut, Bupati mengajak seluruh perangkat daerah, TNI, Polri, pemerintah kecamatan dan gampong, dunia usaha, relawan, hingga masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, tidak membuka lahan dengan cara membakar, memperkuat patroli di daerah rawan, serta segera melaporkan apabila ditemukan titik api.

Ia juga meminta para camat, keuchik, dan aparatur gampong terus memantau perkembangan kondisi di wilayah masing-masing, mengedukasi masyarakat agar menggunakan air secara bijaksana, serta menjaga sumber-sumber air yang masih tersedia.

“Keberhasilan penanggulangan bencana tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif seluruh masyarakat. Semangat gotong royong, kepedulian, dan kebersamaan menjadi modal utama menghadapi setiap ancaman bencana,” ujar Muharram Idris.