Berita UtamaHeadline

Pemulihan Sawah Aceh Capai 32 Persen Pascabencana Hidrometeorologi

Avatar
×

Pemulihan Sawah Aceh Capai 32 Persen Pascabencana Hidrometeorologi

Sebarkan artikel ini
Gerakan tanam padi perdana pascabencana di Desa Bukit Panjang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Minggu, 12 Juli 2026. [Foto: Satgas PRR]

Byklik.com | Karang Baru – Pemulihan sektor pertanian di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga awal Juli 2026, realisasi program optimalisasi lahan sawah telah mencapai 32 persen sebagai bagian dari percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi di 18 kabupaten/kota terdampak.

Kemajuan tersebut ditandai dengan gerakan tanam padi perdana pascabencana di Desa Bukit Panjang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Minggu, 12 Juli 2026. Kegiatan itu menjadi simbol dimulainya kembali aktivitas pertanian sekaligus komitmen pemerintah memulihkan produktivitas lahan dan memperkuat ketahanan pangan di daerah terdampak.

Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir yang mewakili Gubernur Aceh Muzakir Manaf mengatakan bencana hidrometeorologi telah menyebabkan kerusakan besar pada sektor pertanian. Tercatat sekitar 57.364 hektare lahan sawah dan 60.438 hektare lahan perkebunan terdampak, dengan Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah akibat banjir yang membawa lumpur dan material.

Meski demikian, proses pemulihan terus mengalami kemajuan. Menurut M. Nasir, capaian optimalisasi lahan sebesar 32 persen merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak dalam melaksanakan konstruksi pemulihan lahan di 18 kabupaten/kota.

Baca Juga  Kapolda Aceh Tinjau Huntap dan Perkuat Sinergi di Aceh Tamiang

“Kami berterima kasih kepada Menteri Pertanian dan seluruh jajaran Kementerian Pertanian yang bergerak cepat membantu petani kita. Pemulihan ini menjadi prioritas utama agar roda perekonomian masyarakat kembali normal,” ujar M. Nasir.

Ia menjelaskan, pemulihan lahan dilakukan secara bertahap sesuai tingkat kerusakan. Penanganan diawali melalui optimalisasi lahan pada sawah yang mengalami kerusakan ringan, dilanjutkan rehabilitasi untuk kerusakan sedang, hingga pengolahan lahan setelah seluruh pekerjaan konstruksi selesai sehingga dapat segera ditanami kembali.

Selain memulihkan lahan pertanian, pemerintah juga memperbaiki berbagai infrastruktur pendukung agar proses produksi dan distribusi hasil pertanian kembali berjalan optimal.

Berbagai intervensi dilakukan melalui pembangunan dan rehabilitasi sistem irigasi pemompaan, irigasi perpipaan, bangunan konservasi, jaringan irigasi tersier, serta Jalan Usaha Tani yang menjadi akses utama mobilitas petani dan distribusi hasil panen.

Baca Juga  Bupati Al-Farlaky Bawa Relawan Medis, Pantau Kesehatan Warga Cek Mbon

M. Nasir turut mengapresiasi Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Menteri Pertanian Amnar Sulaian beserta jajaran Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Kodam Iskandar Muda, kelompok tani, serta seluruh pihak yang terlibat dalam percepatan pemulihan sektor pertanian.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar lahan yang sempat terendam banjir dapat kembali produktif dan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.

Gerakan tanam padi perdana di Aceh Tamiang menjadi awal dimulainya kembali musim tanam di kawasan terdampak bencana. M. Nasir mengajak para petani memanfaatkan momentum tersebut dengan mengoptimalkan musim tanam, menjaga semangat gotong royong, serta mengikuti arahan pemerintah dan pemangku adat.

“Tanam perdana hari ini bukan sekadar rutinitas menaburkan benih, melainkan simbol bahwa petani kita tetap kuat, semangat, dan optimistis dalam menjaga pasokan pangan di Aceh tetap aman,” pungkasnya.