Byklik.com | Makassar – Produk unggulan daerah dari Kabupaten Aceh Singkil dan Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, menjadi salah satu daya tarik dalam Pameran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat, 10 Juli 2026. Lokan Krispi khas Aceh Singkil serta aneka kerajinan tradisional Deiyai berhasil menarik perhatian pengunjung yang datang dari berbagai daerah.
Keikutsertaan kedua daerah tersebut menjadi wujud komitmen Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dalam mempromosikan potensi lokal sekaligus memperluas akses pasar bagi pelaku usaha mikro dan para perajin.
Pengurus Dekranasda Kabupaten Aceh Singkil, Zubaidah Nasution, mengatakan rombongannya hadir di Makassar untuk memperkenalkan produk unggulan daerah sekaligus mendukung penyelenggaraan HUT ke-46 Dekranas. Meski harus menempuh perjalanan panjang dari Aceh menuju Sulawesi Selatan, semangat mereka tetap tinggi mengikuti pameran berskala nasional tersebut.
“Kami dari Aceh Singkil ada empat orang. Perjalanan dari Singkil ke Medan sekitar tujuh jam lebih melalui jalur darat, kemudian dari Medan ke Jakarta sekitar dua jam dan dari Jakarta ke Makassar sekitar dua jam. Total perjalanan sekitar sebelas jam hingga sampai di Makassar,” ujarnya.
Dalam pameran tersebut, Aceh Singkil menghadirkan Lokan Krispi, makanan ringan berbahan dasar lokan atau sejenis kerang yang banyak ditemukan di perairan Sungai Singkil. Produk yang dikembangkan masyarakat sejak 2016 itu menjadi contoh pengolahan sumber daya lokal yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Menurut Zubaidah, Lokan Krispi memiliki kandungan protein tinggi sehingga dapat dinikmati sebagai lauk maupun camilan. Produk tersebut juga menjadi salah satu oleh-oleh khas yang banyak dicari wisatawan saat berkunjung ke Aceh Singkil.
“Lokan Krispi adalah makanan ringan yang dibuat dari bahan dasar lokan atau sejenis kerang yang diperoleh dari perairan Sungai Singkil. Kandungan proteinnya tinggi sehingga cocok dijadikan lauk maupun camilan saat bersantai,” katanya.
Sementara itu, Dekranasda Kabupaten Deiyai memanfaatkan pameran sebagai ajang memperkenalkan kerajinan tradisional sekaligus mempromosikan kekayaan budaya Papua kepada masyarakat luas.
Ketua Dekranasda Kabupaten Deiyai, Fransina Rumbiak Mote, mengatakan setiap produk yang dipamerkan tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mengandung filosofi dan identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
“Stand Deiyai tidak hanya menampilkan produk kerajinan, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya, kreativitas, dan semangat masyarakat Deiyai,” ujarnya.
Berbagai karya perajin lokal dipamerkan di stand Deiyai, mulai dari noken berbahan kulit kayu (bebi), topi rajutan tradisional, koteka, moge, sisir tradisional, pita, hingga beragam aksesori khas masyarakat Mee. Keunikan produk-produk tersebut berhasil menarik minat pengunjung yang ingin mengenal lebih dekat budaya Papua.
Fransina berharap keikutsertaan dalam pameran nasional ini dapat meningkatkan nilai ekonomi produk lokal melalui perluasan akses pasar dan jejaring usaha. Ia optimistis kerajinan khas Deiyai dapat semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan para perajin.
Ia juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mencintai dan menggunakan produk kerajinan lokal sebagai bagian dari upaya melestarikan identitas budaya Papua.
Partisipasi Aceh Singkil dan Deiyai dalam Pameran HUT ke-46 Dekranas mencerminkan semangat daerah-daerah di Indonesia dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Selain menjadi wadah promosi produk unggulan, pameran yang diikuti Dekranasda provinsi, kabupaten, dan kota dari seluruh Indonesia itu juga menjadi ajang bertukar pengalaman, memperluas jejaring kerja sama, serta memperkuat pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya.











