Byklik.com | Lhoksukon – Pertamina Hulu Energi North Sumatra Offshore (PHE NSO), bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1, melakukan penanaman 300 pohon mangrove dan penebaran 700 bibit kepiting bakau di Gampong Teupin Kuyun, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, Rabu, 17 Juni 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Kelompok Kepiting Desa Unggul dan Reboisasi (Kenduri) yang bertujuan mendukung rehabilitasi ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi berbasis sumber daya pesisir.
Program itu dijalankan sebagai upaya menjaga keseimbangan lingkungan pesisir yang memiliki peran penting dalam mencegah abrasi, menjaga kualitas lingkungan, serta menjadi habitat alami berbagai biota laut, termasuk kepiting bakau.
Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan Kabupaten Aceh Utara, Samsul Rizal, mengapresiasi kolaborasi antara masyarakat dan PHE NSO dalam mendukung pelestarian kawasan pesisir. Menurutnya, keberhasilan budidaya kepiting bakau sangat bergantung pada keberadaan hutan mangrove yang sehat dan terjaga.
“Mangrove menjadi habitat alami bagi kepiting sehingga pelestarian mangrove sangat penting untuk keberlangsungan budidaya kepiting. Semoga ekosistem mangrove di kawasan pesisir Kecamatan Seunuddon dapat terus terjaga,” ujar Samsul Rizal.
Ia menilai program tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir melalui pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal.
Sementara itu, Manager Community Involvement and Development Regional 1 PHE NSO, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, potensi ekonomi dari budidaya kepiting bakau cukup besar dan dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi nelayan di kawasan pesisir.
“Kepiting bakau memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan banyak diminati pasar. Karena itu, selain menjaga ekosistem pesisir, program ini juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” kata Iwan.
Ia menjelaskan, kepiting bakau umumnya dapat dipanen setelah berusia tiga hingga lima bulan. Dengan tingkat keberhasilan panen berkisar antara 60 hingga 80 persen dari jumlah bibit yang ditebar, budidaya kepiting bakau memiliki prospek usaha yang menjanjikan.
Menurut perhitungan program, budidaya kepiting bakau berpotensi memberikan tambahan pendapatan bagi nelayan antara Rp4 juta hingga Rp10 juta dalam satu siklus panen, tergantung pada tingkat keberhasilan budidaya dan kondisi pasar.
Melalui Program Kenduri, PHE NSO bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Utara berupaya memperkuat sinergi dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Program tersebut diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat pesisir yang mengintegrasikan aspek pelestarian lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat.***











