Ekonomi & Bisnis

Simeulue Uji Coba Rumput Laut Merah untuk Ekonomi Biru

Avatar
×

Simeulue Uji Coba Rumput Laut Merah untuk Ekonomi Biru

Sebarkan artikel ini
Petugas DKP Simeulue memperlihatkan bibit rumput laut merah yang akan dikembangkan di perairan Labuhan Bajau, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simuelue, Kamis, 7 Mei 2026. [Foto: Ahmadi/DKP Simuelue]

Byklik.com | Simeulue – Pemerintah Kabupaten Simeulue mulai menguji coba budi daya rumput laut merah jenis Rhodophyta di perairan Teluk Labuhan Bajau, Kecamatan Teupah Selatan, sebagai langkah memperkuat program ekonomi biru di wilayah kepulauan tersebut.

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Simeulue mendatangkan 50 kilogram bibit rumput laut merah dari Provinsi Lampung dengan estimasi masa panen sekitar 55 hari.

Kepala DKP Simeulue, Supriman Juliansyah, mengatakan program tersebut merupakan instruksi langsung Bupati Simeulue untuk mengukur potensi pengembangan komoditas rumput laut di daerah itu.

“Uji coba pengembangan dan budi daya rumput laut merah di daerah kita ini merupakan instruksi langsung dari Pak Bupati Simeulue,” kata Supriman Juliansyah, Kamis, 7 Mei 2026.

Baca Juga  IPB Soroti Bioteknologi Laut Dorong Ketahanan Pangan

Uji coba dilakukan secara mandiri oleh DKP bersama penyuluh perikanan dan warga binaan menggunakan dua rakit berukuran 5×5 meter.

Menurut Supriman, hasil uji coba akan dievaluasi guna melihat kesesuaian rumput laut merah dengan kondisi perairan Simeulue. Jika berhasil, bibit tersebut akan dikembangkan dalam skala besar di seluruh wilayah kepulauan.

“Nanti dari uji coba ini akan dilakukan evaluasi dan bila berhasil maka akan dijadikan bibit serta menjadi cikal bakal program pengembangan rumput laut merah secara besar-besaran di wilayah kepulauan kita,” ujarnya.

Baca Juga  Bocah 12 Tahun Tenggelam di Air Terjun Simeulue

Ia mengakui program serupa pernah dijalankan pada 2015 di lokasi yang sama, namun gagal karena pengelolaannya dilakukan secara berkelompok dan langsung dalam skala besar.

“Memang pada 2015 lalu pernah ada program budi daya rumput laut, tapi gagal karena dilakukan dalam jumlah besar dan secara berkelompok, bukan secara mandiri,” katanya.

Meski demikian, Supriman optimistis rumput laut merah memiliki nilai ekonomi tinggi karena permintaan pasar terus meningkat, termasuk dari luar negeri seperti Jepang.

“Rumput laut ini sebenarnya bernilai ekonomis tinggi, dengan pangsa pasar dalam negeri dan luar negeri, khususnya negara Jepang,” tutupnya.