Byklik.com | Banda Aceh – Kabupaten Aceh Tengah mencatat inflasi tertinggi di Provinsi Aceh pada April 2026, baik secara bulanan maupun tahunan, menandakan tekanan harga yang lebih kuat dibandingkan daerah lain.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menunjukkan, inflasi Aceh Tengah secara month-to-month (m-to-m) mencapai 1,05 persen. Sementara secara year-on-year (y-on-y), inflasi menembus 4,93 persen—tertinggi di antara lima daerah penghitungan inflasi di Aceh.
Kepala BPS Aceh Agus Andria mengungkapkan, secara umum inflasi Aceh pada April 2026 berada di angka 0,23 persen (m-to-m) dan 3,88 persen (y-on-y), dengan tekanan utama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Komoditas seperti ikan bandeng, ikan tongkol, ikan dencis, serta bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang utama kenaikan harga,” ujar Agus, Senin, 4 Mei 2026.
Ia menambahkan, kenaikan tarif angkutan udara juga ikut mendorong inflasi di sejumlah wilayah, memperkuat tekanan dari sektor transportasi.
Namun demikian, Agus menyebut ada sejumlah komoditas yang menahan laju inflasi, terutama dari kelompok hortikultura dan hasil laut.
“Cabai merah, cabai rawit, udang basah, hingga tarif air minum justru mengalami penurunan harga dan membantu menahan inflasi agar tidak melonjak lebih tinggi,” jelasnya.
Dari sisi wilayah lain, BPS mencatat inflasi tahunan terendah terjadi di Meulaboh sebesar 3,14 persen. Sementara itu, Aceh Tamiang mengalami deflasi terdalam secara bulanan sebesar 0,19 persen.
Kondisi ini menunjukkan disparitas tekanan harga antarwilayah di Aceh masih cukup lebar, dengan Aceh Tengah menjadi titik paling panas dalam dinamika inflasi April 2026.











