Uncategorized

Inovasi Dosen IPB Hijaukan Lahan Bekas Tambang

Avatar
×

Inovasi Dosen IPB Hijaukan Lahan Bekas Tambang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. [Foto: IPB]

Byklik.com | Bogor — Inovasi dosen IPB University terpilih sebagai salah satu inovasi paling prospektif dalam ajang 117 Inovasi Indonesia 2025 yang diselenggarakan Business Innovation Center (BIC). Riset tersebut dikembangkan Dr Nisa Rachmania bersama tim.

Berjudul Kolaborasi Jasad Renik Hijaukan Lahan Tambang Kapur, inovasi ini memanfaatkan mikroorganisme lokal untuk mendukung pengomposan dan revegetasi lahan bekas tambang batuan kapur.

Formulasi yang dikembangkan terdiri atas isolat bakteri Bacillus paramycoides A.1.4 dan kapang Penicillium singorense 1.1.a yang diisolasi dari tanah area revegetasi bekas tambang batuan kapur milik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk di Citeureup.

“Area revegetasi di lingkungan quarry bekas tambang batuan kapur Citeureup menyimpan potensi karbon organik dari limbah tumbuhan mati yang mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Dari tanah dan sisa tumbuhan tersebut, kami mengisolasi bakteri dan cendawan penghasil enzim pengurai,” ujar Dr Nisa.

Baca Juga  Pemerintah Luncurkan ION, UMKM Lepas Jerat Platform Digital

Kedua mikroorganisme tersebut kemudian dikombinasikan menjadi konsorsium sebagai formula bioaktivator untuk mempercepat proses pengomposan sisa tanaman di area revegetasi.

Hasil pengujian menunjukkan performa formulasi tersebut lebih unggul dibandingkan produk komersial. Dalam uji pengomposan, bioaktivator mampu menurunkan bobot limbah tanaman hingga 86 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan produk komersial yang hanya mencapai 15 persen.

Pada uji lapangan terbatas seluas sekitar 50 meter persegi, pertambahan tinggi tanaman kaliandra mencapai 9,8 persen pada perlakuan formula, sedikit lebih tinggi dibandingkan 9,1 persen pada penggunaan produk komersial.

“Hal ini menunjukkan kedua isolat telah adaptif pada lingkungan bekas tambang batuan kapur. Kedua spesies ini juga belum pernah dilaporkan sebagai komponen pupuk hayati yang diperjualbelikan secara komersial,” jelasnya.

Baca Juga  Pemerintah Aceh Bakal Bentuk Satgas Khusus Tertibkan Tambang Ilegal

Dr Nisa menambahkan, kedua isolat tersebut tidak bersifat patogen bagi manusia dan hewan. Berdasarkan kajian literatur, Penicillium singorense juga bukan patogen tanaman.

Ia menegaskan inovasi ini masih perlu diuji pada skala lebih luas. Selain itu, isolat mikroorganisme potensial didorong untuk disimpan di pusat koleksi kultur, seperti IPB Culture Collection, agar dapat dijaga dan dimanfaatkan sebagai isolat standar pupuk hayati asli Indonesia.

“Untuk proses hilirisasi diperlukan dukungan institusi dan pemerintah. Pupuk hayati berpotensi mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetis sekaligus meningkatkan kualitas pupuk organik serta kesuburan tanah dalam jangka panjang,” pungkasnya.