ByKlik.com | Yogyakarta – Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan pentingnya kolaborasi strategis antara negara tropis dan kawasan kutub dalam merespons dampak perubahan iklim global. Komitmen tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk Indonesia in a Connected Tropical–Polar World yang digelar di Gedung Pusat UGM, Kamis, 12 Februari 2026.
Seminar ini diselenggarakan UGM bekerja sama dengan Direktorat Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Amerika dan Eropa, Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Forum tersebut menghadirkan sejumlah diplomat dan pakar untuk membahas keterkaitan kawasan tropis dan polar dalam konteks iklim serta geopolitik global.
Rektor UGM Ova Emilia menyatakan, transformasi lingkungan di kawasan Arktik dan Antarktika memiliki dampak langsung terhadap Indonesia, terutama dalam bentuk kenaikan muka air laut dan perubahan pola iklim. “Tantangan ini menegaskan bahwa jarak geografis tidak lagi menentukan relevansi strategis suatu kawasan,” ujarnya.
Menurut Ova, Indonesia tidak bisa lagi hanya menjadi penerima dampak perubahan lingkungan global, tetapi harus berperan aktif sebagai kontributor ilmu pengetahuan dan kebijakan berbasis riset di tingkat internasional. Ia menilai, partisipasi aktif tersebut penting untuk menjaga ketahanan nasional sekaligus memastikan perspektif negara tropis dan kepulauan terwakili dalam diskursus global.
Dalam kesempatan itu, UGM juga mendorong pembentukan pusat riset polar sebagai langkah strategis jangka panjang. Ova menekankan, riset polar bersifat multidisipliner dan membutuhkan kolaborasi antara ilmu iklim, oseanografi, biodiversitas, energi, hingga analisis geopolitik agar mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang komprehensif.
Penasihat Menteri Luar Negeri RI Bidang Sosial, Budaya, dan Pembangunan Manusia, Kamapradipta Isnomo, menegaskan kawasan kutub kini memiliki arti strategis yang semakin signifikan, baik bagi stabilitas sistem iklim global maupun dinamika geopolitik internasional. “Kawasan kutub hari ini memainkan peran sentral dalam stabilitas iklim global dan menjadi ruang strategis dalam percaturan geopolitik,” katanya.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki ruang untuk berpartisipasi lebih aktif melalui penguatan kerja sama ilmiah dan diplomasi berbasis pengetahuan. Menurutnya, kolaborasi riset internasional penting agar perspektif negara tropis turut mewarnai kebijakan global terkait tata kelola kawasan kutub.
Mantan Duta Besar RI untuk Norwegia, Todung Mulya Lubis, menilai kawasan kutub merupakan contoh tata kelola internasional berbasis sains, hukum, dan kerja sama multilateral. Ia menegaskan, stabilitas dan keberlanjutan kawasan tersebut tidak dapat dijaga tanpa keterlibatan aktif negara polar maupun non-polar.
“Tidak ada satu negara pun yang bisa berdiri sendiri dalam isu ini. Keterkaitan kawasan tropis dan kutub adalah keniscayaan yang harus direspons melalui kolaborasi global,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, UGM secara resmi meluncurkan Tropical-Polar Interconnection Research Group yang beranggotakan dosen dan peneliti dengan rekam jejak riset serta pengalaman ekspedisi di wilayah kutub. Kelompok ini diharapkan memperkuat basis pengetahuan nasional tentang relasi tropis–polar sekaligus mendorong kolaborasi lintas disiplin.
Melalui seminar dan peluncuran kelompok riset tersebut, UGM bersama Kementerian Luar Negeri RI menegaskan komitmen memperkuat posisi Indonesia dalam percakapan global mengenai kawasan kutub, serta membangun fondasi ilmiah dan kebijakan yang lebih solid dalam tata kelola iklim dan lingkungan dunia.











