EsaiHeadline

Terlatih untuk Pulih

×

Terlatih untuk Pulih

Sebarkan artikel ini
Foto: Ihan Nurdin/byklik.com

Foto di atas saya potret pada Senin, 22 Desember 2025. Tujuh menit sebelum pukul empat dini hari. Saat itu saya ikut dalam rombongan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) yang melakukan asesmen ke dua kabupaten di Gayo, yaitu Bener Meriah dan Aceh Tengah. Kami berangkat dari Banda Aceh sekitar pukul 09.00 WIB pada Minggu, 21 Desember. Perjalanan yang sangat panjang untuk sampai ke tujuan.

Di dalam foto tersebut, kami mampir sebentar di rumah warga di Desa Buntul Peteri, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah—setelah kantung kemih kami terasa seperti mau meletus karena menahan kencing di sepanjang jalan lintas KKA—Bener Meriah selepas dari Km 33.

Jalan yang mestinya hanya ditempuh beberapa jam saja, di masa-masa ini bisa menjadi semalam suntuk atau bahkan lebih. Sebelum pukul enam sore kami sudah tiba di Km 33 di Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara. Kami beruntung hanya “tersangkut” dua jam di jembatan alternatif Awe Geutah di Kabupaten Bireuen. Melampaui prediksi kami yang mesti bermalam di penyeberangan Awe Geutah.

Hujan baru saja reda dan matahari senja yang merah merona di ufuk barat. Mestinya ini menjadi pemandangan yang indah bagi para pencinta hujan dan senja. Namun, tidak bagi yang sedang melakukan perjalanan menuju Gayo. Guyuran hujan yang setengah lebat justru membuat permukaan jalan yang dilapisi lumpur menjadi licin. Mobil hanya bisa merangkak. Berjalan tersendat-sendat di antara puluhan (atau mungkin ratusan) kendaraan yang mengular.

Saat hari semakin gelap, kami mampir di salah satu warung. Salat Magrib di sana sekalian mengisi perut dengan seporsi mi instan rebus. Terasa lezat dalam kondisi perut lapar dan cuaca yang dingin. Hasil rembuk singkat, kami akan bermalam di Km 33. Ya, tidur di dalam mobil. Itu setelah beberapa mobil dengan tujuan Bener Meriah memutuskan untuk kembali ke Aceh Utara. Juga, setelah melihat melalui kamera drone yang dibawa oleh salah satu relawan terkait kondisi lalu lintas dan antrean beberapa kilometer di depan sana. Jangan nekat! Jangan ambil risiko! Keselamatan tetap yang utama! Itulah yang mereka ucapkan.

Namun, rombongan kami akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Itu karena, tepat di depan kami, sebuah mobil double gardan dengan stiker Dompet Dhuafa bersedia untuk “peutakteh” atau memapah kendaraan kami. Mobil itu mengangkut tiga penumpang dan bantuan logistik untuk masyarakat Gayo.

Baca Juga  Iran Luncurkan Rudal Sejjil ke Israel, Namanya Terinspirasi dari Surah Al-Fil

Para relawan Dompet Dhuafa itu berangkat dari Jakarta. Salah satu dari tiga orang itu adalah seorang anak muda yang berasal dari Kembang Tanjong, Pidie—yang bertindak sebagai penunjuk jalan. Mereka datang ke lokasi bencana dengan sangat siap. Juga mempersiapkan tim mereka sebagai rescuer. Mereka turut bertindak sebagai pengatur lalu lintas. Membantu warga dan tentara yang bertugas di sepanjang titik rawan.

Mereka juga membawa tali tambang besar. Dengan tambang itulah beberapa kali mobil kami ditarik sehingga mampu melewati titik-titik yang sempat membuat mobil-mobil kandas. Di lokasi pula terlihat truk reo yang wara-wiri menarik mobil-mobil yang kepayahan menanjaki jalur.

Di sepanjang jalan lintas KKA—Bener Meriah terdapat beberapa titik yang sangat rawan. Perpaduan jalan yang sempit, licin, dan berlumpur tentulah menjadi tantangan bagi pelintas. Ditambah, beberapa ruas jalan kini menjadi sumbing setelah tergerus longsor.

Kami bersyukur, ada Dedi yang lihai dan sangat terampil mengemudi. Maka, saat mobil akhirnya tiba di Desa Kem—desa terakhir di Kecamatan Permata yang berbatasan dengan Kecamatan Nisam Antara di Kab Aceh Utara—tidakkah kami semua lega dan mengucap syukur berkali-kali? Juga karena kami bisa segera buang air kecil.

Ini perjalanan kebencanaan. Jauh-jauh sebelum keberangkatan sudah diwanti-wanti, tak hanya fisik yang perlu dipersiapkan, tetapi juga mental. Terlebih, di dalam mobil itu, hanya Dedi yang laki-laki. Tiga penumpang lainnya: saya, Syarifah Aini, dan Syamsidar, perempuan semua. Kami yang tiga ini, juga sudah bersiap-siap jika sewaktu-waktu mesti mendorong mobil yang tersuruk.

Syukurnya, perjalanan di malam hari membuat kami (saya) berkurang rasa khawatir karena kondisi di sekitar hanya bisa diterka-terka. Namun, tentu menjadi kepayahan tersendiri bagi pengemudi yang tak bisa melihat dengan jelas kondisi jalan yang dilalui. Namun, Dedi yang merupakan “alumnus” menembus jalan lintas Abdya—Gayo Lues yang juga membawa Tim MDMC sepekan sebelumnya, memiliki kecakapan mengemudi yang luar biasa.

Di rumah warga yang kami singgahi itu, kami disuguhi kopi Buntul yang istimewa. Saya menyeruputnya segelas. Dinyalakan juga api unggun untuk menghangatkan badan. Diberikan juga selimut tebal. Di sini, tim kami mulai bergabung dengan Tim MDMC yang dipimpin oleh Ichwanul Fitri, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh. Mereka sebenarnya sedang dalam perjalanan pulang dari Tamiang menuju Banda Aceh. Namun, kemudi kemudian berbelok ke arah Simpang KKA begitu mereka sampai di Aceh Utara. Agaknya itu lebih karena kekhawatiran mereka terhadap rombongan kami.

Baca Juga  Kapolri Perintahkan Bangun 209 Sumur Bor di Aceh Tamiang

Udara dingin menusuk hingga ke tulang. Di ponsel saya, suhunya menunjukkan angka 17 derajat. Tapi, di Gayo, suhu segitu tekanannya melebihi suhu yang dihasilkan oleh air conditioner. November lalu, saat saya berada di Takengon, suhunya tidak sedingin itu. Bahkan cukup bagi saya dengan selembar selimut yang disediakan sesuai standar pelayanan di tempat-tempat penginapan. Karena tak mampu beradaptasi dengan suhu yang teramat dingin itu, sepulang dari Gayo kali ini, saya jadi sakit.

Seorang remaja bersama adiknya melihat jalan lintas Sp KK–Bener Meriah yang belum bisa dilintasi di Desa Gelampang Wih Tenang Uken, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, 23 Desember 2025. Foto: Ihan Nurdin/byklik.com

Bagi saya pribadi, persoalan dingin itu selesai manakala saya kembali ke kota pesisir yang hangat. Namun, bagaimana dengan masyarakat setempat yang sudah kehilangan tempat tinggal dan tak ada tempat yang cukup memadai untuk ditempati sementara? Di Gayo, para korban bencana tidak hanya berjuang untuk mendapatkan pasokan logistik atau bahan bakar. Mereka juga harus berjuang untuk melawan suhu dingin yang teramat sangat. Suhu yang berkali-kali lipat bertambah dingin saat matahari mulai tenggelam.

Faktor-faktor alam seperti ini mestilah menjadi pertimbangan khusus bagi pemerintah dalam penanganan bencana. Ia seharusnya menjadi titik tekan mengapa respons kebencanaan tidak bisa diseragamkan, melainkan harus inklusif dan benar-benar berangkat dari kebutuhan penyintas.

Secara umum, tiga wilayah di Aceh yang terdampak bencana, seperti di pesisir utara, timur, dan dataran tinggi Aceh memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari topografi, geografi, maupun cara hidup masyarakatnya. Perbedaan ini harus menjadi dasar utama dalam merumuskan strategi penanganan bencana. Meskipun penyebabnya sama, yaitu banjir bandang dan longsor, tetapi dampak atau akibat yang ditimbulkan bisa berbeda. Baik itu terkait dengan kerusakan infrastruktur, kesehatan, ekonomi, maupun aspek sosialnya. Di Gayo misalnya, dengan topografi berupa pegunungan, menjadikan daerah ini sangat terisolasi sehingga berdampak pada mandeknya aktivitas ekonomi masyarakat.

Dengan kondisi seperti itu, tak heran jika beberapa warga yang saya temui di sana tak berharap banyak pada pemerintah. Mereka hanya minta pemerintah memprioritaskan satu hal: percepat pembukaan akses jalan yang tertimbun atau putus akibat terjangan banjir. Jika akses jalan normal kembali, mereka bisa dengan mudah memasarkan hasil bumi yang melimpah dengan hasil agrikultur. Jika aktivitas ekonomi lancar, masyarakat bisa pulih dengan sendirinya. Bukankah sedari dulu masyarakat kita memang sudah terlatih untuk itu?[]