Berita Utama

Tanah Amblas Tiba-tiba, Lubang Misterius Menganga di Sumatera Barat

Avatar
×

Tanah Amblas Tiba-tiba, Lubang Misterius Menganga di Sumatera Barat

Sebarkan artikel ini
Sinkhole atau lubang amblas berdiameter lebih dari 10 meter muncul secara tiba-tiba di kawasan persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Jumat (4/1/2026). [Foto: ugm.ac.id]

Byklik.com | Lima Puluh Kota — Belum pulih dari rangkaian bencana hidrometeorologi, Sumatera Barat kembali diguncang bencana geologi. Sebuah sinkhole atau lubang amblas berdiameter lebih dari 10 meter muncul secara tiba-tiba di kawasan persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Jumat (4/1), dan berpotensi meluas.

Dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, Prof. Dr. Eng. Ir. Wahyu Wilopo, menegaskan fenomena tersebut dipicu kombinasi kondisi geologi batu gamping (karst), erosi material lapuk, serta curah hujan ekstrem dalam beberapa waktu terakhir.

Ia menyebut, siklon Senyar yang terjadi pada akhir November 2025 berperan besar meningkatkan intensitas hujan di Sumatera Barat, sehingga mempercepat proses pelarutan batuan dan pembentukan rongga bawah tanah. “Wilayah Sumatera Barat memiliki satuan batuan gamping. Ketika curah hujan tinggi, risiko sinkhole meningkat signifikan,” ujarnya di Kampus UGM, Rabu (7/1/2026).

Baca Juga  Sekda Aceh Pimpin Finalisasi R3P Pascabencana

Menurut Wahyu, sinkhole tidak dapat terjadi di semua wilayah, melainkan dominan di daerah karst, tanah berongga, atau kawasan dengan aktivitas manusia yang mempercepat erosi, seperti eksploitasi air tanah berlebihan. Penurunan muka air tanah dapat memperbesar rongga dan melemahkan struktur penyangga permukaan.

Ia menambahkan, wilayah dengan material vulkanik lapuk juga rentan mengalami amblesan akibat mudah terkikis air. Kondisi tersebut membuat lubang amblas berpotensi semakin dalam dan memicu amblesan lanjutan di sekitar lokasi.

Selain merusak lahan pertanian, fenomena ini berisiko mencemari air tanah dan sungai bawah tanah, serta mengganggu ekosistem flora dan fauna. Wahyu menegaskan, karakter sinkhole yang muncul tanpa peringatan menjadikannya ancaman serius bagi keselamatan jiwa dan infrastruktur.

“Dampaknya bukan hanya fisik, tetapi juga psikologis. Rasa cemas dan trauma masyarakat sangat mungkin terjadi,” katanya.

Baca Juga  Bupati Aceh Utara Resmikan Program Tahfidz Qur'an untuk Jenjang SD dan SMP

Wahyu menekankan, penanganan sinkhole tidak cukup dengan menutup lubang. Langkah awal harus diawali evakuasi warga, dilanjutkan survei geologi dan geofisika untuk mengetahui kedalaman serta struktur rongga, menggunakan metode geolistrik, seismik, dan ground penetrating radar (GPR).

Upaya stabilisasi tanah dapat dilakukan melalui pengisian material padat, grouting, perbaikan drainase, serta penguatan struktur pondasi. Namun, ia mengingatkan bahwa pencegahan total hampir mustahil dilakukan.

“Yang bisa dilakukan adalah mitigasi risiko,” ujarnya.

Ia mengimbau pemerintah segera melakukan pemetaan wilayah rawan sinkhole, sementara masyarakat diminta waspada terhadap tanda awal seperti retakan tanah, penurunan permukaan, bangunan miring, perubahan aliran air, atau munculnya lubang kecil.

“Edukasi dan pelaporan dini sangat penting agar dampak bencana geologi ini bisa diminimalkan,” pungkasnya.