Humaniora

Survei UGM–Nottingham: Kampus Indonesia Belum Ramah Dosen Disabilitas

Avatar
×

Survei UGM–Nottingham: Kampus Indonesia Belum Ramah Dosen Disabilitas

Sebarkan artikel ini
Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan University of Nottingham, Inggris, mengungkap fakta pahit dunia pendidikan tinggi Indonesia yang tidak ramah disabilitas, Selasa, 10 Februari 2026. [Foto: UGM]

ByKlik.com | Yogyakarta — Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan University of Nottingham, Inggris, mengungkap fakta pahit dunia pendidikan tinggi Indonesia. Survei terhadap 59 dosen penyandang disabilitas dari 26 perguruan tinggi negeri dan swasta menunjukkan hampir seluruh kampus belum ramah bagi dosen disabilitas.

Berbagai hambatan fisik dan nonfisik masih menjadi keseharian mereka, mulai dari tangga curam tanpa lift, toilet sempit, gedung bertingkat yang mustahil diakses kursi roda, hingga sistem administrasi digital yang tidak kompatibel dengan screen reader. Dosen netra kesulitan mengisi laporan kinerja, sementara dosen dengan hambatan dengar merasa terasing dalam rapat akademik karena minimnya akses komunikasi.

Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM sekaligus Ketua Tim Peneliti, Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D., menegaskan dampak kondisi tersebut sangat serius terhadap kesehatan mental dan karier akademik dosen disabilitas.

“Banyak dari mereka mengalami kecemasan berlebih, kelelahan berpikir, dan emosi yang naik-turun. Ini bukan karena malas, tapi energi mereka habis untuk menaklukkan hambatan lingkungan sebelum sempat mengajar,” ujar Wuri di Kampus UGM, Selasa, 10 Februari 2026.

Baca Juga  Mellani Subarni Rayakan Hari Anak dengan Puluhan Bocah di Aceh Besar

Menurutnya, lingkungan kampus yang tidak inklusif membuat dosen disabilitas kehilangan kepercayaan diri dan merasa tertinggal dari rekan sejawat.

“Pada akhirnya mereka takut bermimpi naik jabatan, bahkan ragu melanjutkan studi S3,” katanya.

Hambatan juga muncul dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. Perubahan jadwal kuliah mendadak, kelas besar tanpa dukungan aksesibilitas, hingga konferensi luar kota yang minim fasilitas ramah disabilitas kerap menjadi sumber kecemasan.

“Kegiatan akademik yang seharusnya jadi ajang pamer karya, justru berubah jadi mimpi buruk soal transportasi, penginapan, pendamping, sampai formulir hibah riset yang rumit dan tidak aksesibel. Banyak ide brilian akhirnya terkubur,” ungkap Wuri.

Temuan survei ini dibahas dalam forum strategis bertajuk Shining a Light on Unheard Voices of Disabled Researchers (SHINE) yang digelar UGM dan University of Nottingham, didanai British Council melalui skema Going Global Partnership 2025, di Yogyakarta, 4–5 Februari 2026.

Baca Juga  Masjid Oman Jadi Saksi Cinta Gadis Aceh dan Pemuda Rusia

Pada puncak forum, 16 dosen disabilitas sepakat membentuk Asosiasi Dosen Disabilitas Indonesia (ADDI) sebagai wadah perjuangan kolektif mendorong kebijakan kampus dan pemerintah yang lebih inklusif.

“Mereka ingin memastikan adanya akomodasi yang layak dan kebijakan yang benar-benar berpihak,” ujar Wuri.

Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., menyambut baik lahirnya ADDI dan menegaskan komitmen kampus terhadap inklusivitas nyata.

“Inklusivitas tidak boleh berhenti di jargon. Kampus harus melakukan audit aksesibilitas dan memastikan lingkungan belajar bebas hambatan, bukan hanya bagi mahasiswa, tetapi juga dosen,” tegasnya.

Ia berharap rekomendasi riset dan lokakarya tersebut tidak sekadar menjadi dokumen formal.

“Ini harus menjadi refleksi dan pemicu perubahan komprehensif di universitas-universitas seluruh Indonesia,” pungkas Wening.