ByKlik.com | Yogyakarta — Di antara deru notifikasi pesanan dan jadwal kuliah yang padat, Ryaas Amin menata mimpinya pelan tapi pasti. Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menjalani hari-harinya bukan hanya sebagai mahasiswa, tetapi juga sebagai pengemudi ojek online dan pengantar makanan demi membiayai hidup serta pendidikannya sendiri. Minggu, 1 Februari 2026.
Bagi Ryaas, kemandirian bukan sekadar pilihan, melainkan prinsip hidup. Ia ingin membuktikan bahwa mimpi bisa diperjuangkan tanpa harus sepenuhnya bergantung pada orang tua. Keputusan itu membawanya ke jalanan—mengantar pesanan, menembus panas dan hujan, sambil tetap menjaga fokus di ruang kuliah.
Awalnya, ia menggunakan sepeda motor milik sang kakak untuk bekerja. Kini, kendaraan pamannya menjadi penopang utama mobilitasnya. Dari situlah roda kehidupannya berputar—secara harfiah dan batiniah.
Penghasilannya rata-rata Rp3 juta per bulan. Jumlah yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja, tetapi bagi Ryaas, itu adalah simbol harga diri: hasil dari tenaga, waktu, dan tekadnya sendiri.

Menukar Waktu dengan Mimpi
Menjalani dua peran sekaligus menuntut disiplin tinggi. Ryaas menyiasatinya sejak awal semester, bahkan sejak masa pengisian KRS.
“Kalau manajemen waktu, aku mulai pas milih mata kuliah. Jumlah SKS itu jadi patokan biar bisa ngebagi waktu antara kuliah dan kerja,” tuturnya.
Tak ada jadwal yang benar-benar longgar. Pagi bisa diisi kuliah, sore hingga malam berburu pesanan. Di sela-sela itu, tugas kuliah tetap harus selesai. Lelah sudah jadi teman akrab, tapi menyerah tak pernah masuk rencana.
Menurutnya, pekerjaan ini relatif fleksibel, namun tetap menuntut konsistensi. “Kalau ditekuni, penghasilannya nggak mengecewakan,” katanya ringan, seolah jam-jam panjang di jalan bukan beban berarti.
Tak Ingin Membebani Orang Tua
Di balik semua itu, ada satu alasan yang paling kuat: ia ingin berdiri di atas kakinya sendiri.
“Aku pengen sesuatu, tapi pengen mewujudkannya atas usahaku sendiri. Kalau zonk, aku nggak merasa ngerugiin orang tuaku,” ujarnya jujur.
Orang tuanya, kata Ryaas, memberi dukungan dengan cara sederhana: tidak melarang, tidak menekan. Pesannya cuma satu—kuliah dan kerja harus tetap seimbang.
Sikap itu justru menjadi energi tambahan. Ia merasa dipercaya, sekaligus ditantang untuk membuktikan bahwa ia mampu bertanggung jawab atas pilihannya.
Sekolah Kehidupan di Jalanan
Bagi Ryaas, pengalaman ini lebih dari sekadar mencari uang. Jalanan telah menjadi ruang belajar yang tak ia temukan di bangku kuliah.
Ia belajar menghadapi pelanggan dengan beragam karakter, mengatur prioritas saat waktu terasa sempit, hingga tetap tenang ketika pesanan terlambat atau aplikasi bermasalah.
“Proses ini bisa jadi bekalku setelah lulus nanti. Aku jadi terbiasa ngatur prioritas, multi-tasking, dan kadang mengatasi konflik dari pelanggan,” katanya.
Di usianya yang masih muda, Ryaas sudah memahami satu hal penting: hidup tak selalu memberi kemudahan, tapi selalu menyediakan ruang bagi mereka yang mau berusaha.
Di balik helm dan jaket ojek online itu, ada mimpi besar yang sedang ia kejar—pelan, lelah, tapi penuh keyakinan.





