Byklik.com | Lhokseumawe – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyediakan rumah sakit apung untuk melayani masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi di Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara. Fasilitas layanan kesehatan bergerak tersebut dihadirkan guna memperkuat akses pelayanan medis bagi warga yang terdampak dan mengalami keterbatasan layanan kesehatan akibat bencana.
Rumah sakit apung Laksamana Malahayati milik PDIP dilengkapi dengan tenaga medis profesional, obat-obatan, serta peralatan kesehatan dasar. Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan, pengobatan, hingga penanganan medis darurat, dengan prioritas bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kota Lhokseumawe, Fakhrizal, ST, mengatakan kehadiran rumah sakit apung merupakan wujud kepedulian partai terhadap kondisi kemanusiaan di wilayah terdampak bencana.
“Pengoperasian rumah sakit apung ini merupakan bentuk gotong royong dan kepedulian PDIP kepada masyarakat. Kami berkomitmen hadir membantu pemulihan kesehatan warga dengan bersinergi bersama pemerintah daerah dan unsur terkait,” ujar Fakhrizal, Jumat, 9 Januari 2026.
Ia menjelaskan, rumah sakit apung akan beroperasi dan berlabuh di Pelabuhan Umum Krueng Geukueh pada 10 hingga 11 Januari 2026. Kegiatan tersebut merupakan hasil kerja sama antara DPP PDIP, DPD PDIP Aceh, dan DPC PDIP Kota Lhokseumawe. Selain layanan medis di kapal, PDIP juga menyiagakan ambulans untuk melayani antar-jemput pasien.
Selama dua hari operasional, masyarakat dapat memperoleh layanan pengobatan gratis yang ditangani langsung oleh dokter dan perawat dari Bidang Kesehatan DPP PDIP. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-53 PDIP.
“Layanan ini terbuka untuk masyarakat umum. Warga yang membutuhkan pengobatan dapat langsung datang ke Pelabuhan Umum Krueng Geukueh sesuai jadwal operasional,” kata Fakhrizal.
PDIP memastikan layanan rumah sakit apung akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan selama masa tanggap darurat, serta terus berkoordinasi dengan pihak terkait agar penanganan kesehatan bagi korban bencana dapat berjalan optimal dan tepat sasaran.***











