Berita Utama

Muzani: Ulama Kunci Optimisme Aceh Pascabencana

Avatar
×

Muzani: Ulama Kunci Optimisme Aceh Pascabencana

Sebarkan artikel ini
Ketua MPR RI Ahmad Muzani bersilaturahmi dengan ulama Aceh di Dayah Mahyal Ulum Al Aziziyah dalam rangka penguatan spiritual pascabencana Aceh. [Foto: Humas MPR RI]

ByKlik.com | Jantho – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani menegaskan peran strategis ulama sebagai penjaga optimisme dan ketenangan batin masyarakat Aceh pascabencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah pada akhir November 2025.

Penegasan itu disampaikan dalam kegiatan Silaturahmi Pimpinan MPR RI dengan Ulama Aceh di Pondok Pesantren Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, Sibreh, Aceh Besar, Selasa, 10 Februari 2026.

“Musibah ini bukan hanya menguji ketahanan fisik dan ekonomi, tetapi juga mental dan spiritual umat. Di sinilah peran para ulama menjadi sangat menentukan dalam menenangkan masyarakat dan menjaga optimisme rakyat Aceh,” ujar Muzani di hadapan para pimpinan dayah dan tokoh agama.

Menurutnya, bantuan material dan pemulihan infrastruktur memang penting, namun menjaga harapan masyarakat jauh lebih krusial agar Aceh tidak terjebak dalam keputusasaan. “Memberi bantuan itu penting, tetapi menjaga optimisme rakyat jauh lebih penting. Selama ulama terus membimbing umat dengan keteduhan, Aceh akan tetap tegak dan masa depannya cerah,” katanya.

Muzani menjelaskan, kunjungan tersebut merupakan kali kedua Pimpinan MPR RI ke Aceh sebagai bentuk empati dan dukungan moral. Pada kunjungan pertama, MPR RI telah menyerap aspirasi kepala daerah terkait percepatan pembangunan hunian sementara, pemulihan jalan nasional dan provinsi, pemulihan listrik, serta distribusi BBM dan LPG 3 kilogram.

Baca Juga  KKN Kebencanaan USK, Sekda Aceh Minta Mahasiswa Turun Langsung

“Seluruh aspirasi itu sudah kami sampaikan langsung kepada Presiden. Alhamdulillah, satu per satu mulai terpulihkan. Jalur Banda Aceh–Medan membaik, akses antarwilayah tersambung, dan pasokan listrik telah pulih hingga 99 persen, meskipun masih ada 23 desa yang membutuhkan penanganan lanjutan,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan sejumlah aspirasi lanjutan Pemerintah Aceh, di antaranya permohonan agar pembiayaan BPJS Kesehatan bagi sekitar 500 ribu penerima manfaat dapat ditanggung melalui APBN, serta agar kuota BBM bersubsidi sementara tidak dibatasi guna mendukung operasional alat berat dalam percepatan pemulihan infrastruktur.

Menjelang Ramadan, Muzani menyoroti pentingnya menjaga tradisi meugang sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Aceh. Ia memastikan aspirasi tersebut akan kembali disampaikan kepada Presiden. Dalam kesempatan itu, Pimpinan MPR RI juga menyerahkan bantuan simbolis 15.000 paket sembako dan perlengkapan ibadah untuk delapan kabupaten terdampak.

“Oleh-oleh ini bukan untuk menggantikan beban yang berat, melainkan sebagai tanda cinta dan kebersamaan dari Jakarta untuk rakyat Aceh, agar Ramadan dapat disambut dengan hati yang lebih tenang,” ujarnya. Ia menegaskan, “Sakit Aceh adalah sakit kami. Selama kebersamaan antara pemerintah, ulama, dan masyarakat terjaga, Aceh akan bangkit lebih kuat.”

Baca Juga  Polres Gayo Lues Bangun Empat Jembatan Gantung, Akses Warga Pulih

Sementara itu, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tgk. H. Faisal Ali menekankan pentingnya penanganan bencana yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga penguatan nilai spiritual masyarakat. Ia berharap sebelum Ramadan, para pengungsi dapat dipindahkan dari tenda darurat ke hunian sementara yang lebih layak.

“Kami memahami ada keterbatasan dalam penanganan bencana. Namun menjelang Ramadan, masyarakat perlu kondisi yang lebih baik agar bisa beribadah dengan tenang,” ujarnya. Ia juga menyoroti sejumlah dayah dan masjid yang terdampak banjir dan membutuhkan perhatian serius.

Faisal menambahkan, para ulama telah mengirimkan santri untuk mendampingi masyarakat di hunian sementara dan posko pengungsian selama Ramadan guna memperkuat mental dan spiritual warga. Ia juga berharap proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dapat memprioritaskan tenaga kerja serta pengusaha lokal agar pemulihan ekonomi Aceh berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.