Humaniora

Menag: Umat Islam Harus Memahami dan Amalkan Alquran

Avatar
×

Menag: Umat Islam Harus Memahami dan Amalkan Alquran

Sebarkan artikel ini
Beberapa Mahasiswa sedang menyimak sekaligus mencatat materi tausiyah Menag. [Foto: Kemenag]

Byklik.com | Surabaya – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan umat Islam agar tidak hanya membaca, tetapi juga memahami serta mengamalkan isi Alquran dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan saat memberikan tausiyah pada peringatan malam Nuzulul Quran di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Jumat, 6 Maret 2026.

Menurut Nasaruddin, membaca Alquran memang memiliki keutamaan besar, terutama pada bulan Ramadan. Namun, keislaman seseorang dinilai tidak akan sempurna jika hanya berhenti pada kemampuan membaca tanpa memahami maknanya.

“Alquran ini dua-duanya harus diamalkan secara paralel. Mengamalkan satu di antaranya tanpa yang lain tidak membuat keislaman kita sempurna. Karena itu kita perlu benar-benar memahami apa makna Alquran,” kata Nasaruddin.

Ia menjelaskan, membaca Alquran tetap memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi. Bahkan pada bulan Ramadan, pahala membaca Alquran disebut jauh lebih besar dibandingkan hari-hari biasa.

Baca Juga  15 PTN Jatim Sinergi Riset Lewat Skema JATIM MELAJU di ITS

“Penting kita baca, apalagi di Ramadan. Satu huruf bisa tiga puluh pahala. Kalau di luar Ramadan hanya tiga pahala,” ujarnya.

Meski demikian, Nasaruddin menegaskan bahwa umat Islam tidak cukup hanya mahir membaca atau menghafal Alquran. Pemahaman terhadap makna ayat-ayatnya menjadi hal penting agar ajaran Alquran dapat diterapkan dalam kehidupan.

“Bukan saja pintar membaca Alquran, menghafal Alquran, makhrajnya, tajwidnya, tetapi juga paham artinya,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga menyinggung suasana spiritual yang menurutnya lebih terasa selama Ramadan. Kondisi itu membuat umat Islam lebih mudah membaca Alquran dibandingkan hari-hari biasa.

Baca Juga  Rikanurrizki: Merawat dengan Hati, Mengabdi dengan Penuh Dedikasi

“Di bulan Ramadan ada energi emosional. Satu juz, dua juz itu gampang dibaca. Di luar Ramadan satu halaman saja kadang susah karena banyak urusan,” ujarnya.

Ia menegaskan, peringatan Nuzulul Quran seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk menjadikan Alquran sebagai rujukan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

“Untuk apa kita memperingati Nuzulul Quran? Supaya semua problem kehidupan kita bisa kita sandarkan, kita selesaikan, kita uraikan melalui ayat-ayat Alquran,” kata Nasaruddin.

Menutup tausiyahnya, ia mengajak umat Islam untuk terus menjadikan Alquran sebagai pedoman dalam menghadapi perkembangan zaman.

“Mari kita maju bersama Alquran, menyesuaikan kehidupan modern dengan Alquran. Selama kita berpegang teguh pada Alquran, jalan kehidupan kita pasti tidak akan sesat,” tutupnya.