ByKlik.com | Lhoksukon — Kementerian Kehutanan menyerahkan kayu hanyutan pascabencana hidrometeorologi kepada pemerintah daerah untuk mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) dan pemulihan wilayah terdampak, memasuki hari ke-45 penanganan bencana sejak 2 Desember 2025.
Di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, sebanyak 1.173 batang kayu hanyutan dengan volume 2.112,11 meter kubik diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan diterima langsung oleh Bupati Aceh Utara. Dari jumlah tersebut, sekitar 60,77 ton atau setara 87 meter kubik telah diolah sebagai material pembangunan huntara. Serah terima dilakukan secara resmi dan disaksikan unsur pemerintah daerah serta aparat keamanan.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Subhan menegaskan, penyerahan kayu hanyutan dilakukan untuk memastikan pemanfaatannya tepat sasaran dan transparan.
“Kayu hanyutan kami serahkan kepada pemerintah daerah agar penggunaannya fokus untuk pembangunan huntara dan fasilitas publik, serta tidak disalahgunakan,” ujar Subhan, Kamis 15 Januari 2026.
Hingga 14 Januari 2026, pemanfaatan kayu hanyutan di Aceh Utara telah mendukung pembangunan 21 unit huntara. Sebanyak tiga unit telah dihuni warga Desa Geudumbak, 15 unit masih dalam proses pembangunan, dan tiga unit lainnya dalam tahap penyelesaian akhir. Kegiatan di lapangan didukung 52 personel Kemenhut serta 40 unit alat berat dari Kemenhut, TNI, dan Kementerian PUPR.
Sementara itu di Sumatera Utara, penyerahan kayu hanyutan juga dilakukan di Kabupaten Tapanuli Selatan. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani mengatakan, tahap pertama penyerahan mencakup 329,24 meter kubik kayu hanyutan yang dimanfaatkan untuk pembangunan alas huntara di Desa Batu Hula.
“Pemanfaatan kayu hanyutan ini ditegaskan tidak untuk diperjualbelikan dan sepenuhnya digunakan untuk pemulihan pascabencana,” kata Novita.
Ia menambahkan, hingga 14 Januari 2026, pemanfaatan kayu hanyutan di Tapanuli Selatan telah mendukung pembangunan 59 unit huntara dan dua unit tempat ibadah dari total rencana 245 unit. “Kami terus mempercepat pengolahan dan pengawasan agar pemulihan berjalan cepat, tertib, dan berkelanjutan,” ujarnya.











