NasionalPendidikan & Karier

Kemenag: Targetnya Ijazah Ma’had Aly Berlaku Tanpa Diskriminasi

Avatar
×

Kemenag: Targetnya Ijazah Ma’had Aly Berlaku Tanpa Diskriminasi

Sebarkan artikel ini
forum Halaqah Mudir Ma’had Aly di Kota Semarang, 24–26 Februari 2026. [Foto: Kemenag]

Byklik.com | Semarang — Ekosistem pendidikan tinggi pesantren memasuki fase transformasi komprehensif. Kementerian Agama bersama Majelis Masyayikh dan Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI) menyepakati tahapan strategis masa depan Ma’had Aly agar unggul secara keilmuan Islam, berwibawa secara administratif, serta adaptif terhadap tata kelola digital.

Kesepakatan itu mengemuka dalam forum Halaqah Mudir Ma’had Aly di Kota Semarang, 24–26 Februari 2026. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Amin Suyitno menegaskan komitmen negara menuntaskan hambatan administratif lulusan dan dosen Ma’had Aly.

“Target kita adalah ijazah Ma’had Aly jenjang Sarjana dan Magister harus memiliki daya laku otomatis untuk melanjutkan studi ke luar negeri maupun berkarier di instansi negara manapun tanpa diskriminasi,” tegasnya secara daring, Kamis, 26 Februari 2026.

Direktur Pesantren Basnang Said menyoroti peran Ma’had Aly sebagai pemegang otoritas substansi keilmuan keislaman. Alumnus Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang itu menyebut input mahasantri yang telah mahir kitab kuning menempatkan mereka di atas rata-rata mahasiswa perguruan tinggi keagamaan lainnya.

Baca Juga  Masjid Negara dan Basilika Jadi Fokus Awal Rumah Ibadah IKN

“Ma’had Aly adalah penjaga gawang literasi turats. Kami menyiapkan peta jalan agar pada 2029/2030 minimal ada puluhan Ma’had Aly yang menyelenggarakan marhalah tsalitsah atau jenjang M3 (Doktor). Kami juga mendorong kemandirian infrastruktur melalui pembangunan gedung ikonik penciri Ma’had Aly yang representatif, namun tetap dalam kultur pesantren,” ujarnya.

Ia menambahkan, Nomor Induk Dosen Ma’had Aly harus berstandar nasional guna memberikan proteksi karier dan jenjang fungsional akademik bagi para muhadhir.

Terpisah, Tenaga Ahli Majelis Masyayikh, Muhammad Nafies Husnie, menjelaskan mutu Ma’had Aly terus meningkat. Berdasarkan asesmen 2025 oleh tim asesor Majelis Masyayikh, kategori Mumtaz (Unggul) melonjak hingga 75 persen.

“Standar mutu ini menjadi instrumen agar negara dapat menyalurkan fasilitasi sarana dan prasarana secara tepat sasaran berdasarkan peta mutu yang valid,” jelasnya.

Sekretaris Jenderal AMALI, Nurul Mubin, menyambut program Future Talent Hub dari Pijar Foundation. Program tersebut membekali mahasantri dengan keahlian digital seperti digital marketing dan product management.

Baca Juga  Dua Profesor USK Raih Penghargaan Internasional di Malaysia

“Lulusan Ma’had Aly menunjukkan serapan kerja cepat, kurang dari satu tahun. Namun kita harus naik kelas. Dengan keahlian digital, mahasantri tidak hanya menjadi pendidik lembaganya, tetapi bisa menjadi ulama atau pendidik digital yang mampu berinovasi dalam digitalisasi dakwah dan mengelola unit usaha pesantren secara profesional,” tuturnya.

Halaqah ini menyepakati transformasi Ma’had Aly bertumpu pada tiga pilar utama: ketajaman kitab kuning, ketertiban administrasi negara, dan penguasaan teknologi. Kolaborasi Kementerian Agama, Majelis Masyayikh, dan AMALI diharapkan memperkuat posisi Ma’had Aly sebagai institusi pendidikan tinggi Islam khas pesantren yang berkelas, berwibawa, dan tetap setia pada akar tradisi Nusantara.

Kepala Subdirektorat Pendidikan Ma’had beserta jajaran menyatakan siap mengawal hasil pertemuan para mudir agar diwujudkan secara nyata dengan langkah cepat, tepat, dan berbasis regulasi.