ByKlik.com | Jakarta – Kementerian Agama membuka pendaftaran program edukasi pengamatan hilal bertajuk Yasalūnaka ‘an al-Ahillah: Hilal Observation Coaching yang menyasar kreator digital dan influencer muda guna memperkuat literasi publik terkait penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah.
Program ini ditujukan bagi kreator konten berusia maksimal 35 tahun, berdomisili di wilayah Jabodetabek, serta memiliki akun media sosial aktif dengan minimal 3.000 pengikut. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat pemahaman masyarakat mengenai proses penetapan awal bulan Hijriah melalui pendekatan keilmuan dan syar’i.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, mengatakan edukasi hilal penting karena isu tersebut telah menjadi perhatian umat sejak masa Rasulullah sehingga penjelasannya harus berbasis ilmu, bukan asumsi atau spekulasi.
“Persoalan hilal bukan isu baru. Sejak masa Rasulullah, umat sudah bertanya tentangnya. Karena itu, penjelasannya harus berbasis ilmu, bukan asumsi atau spekulasi,” ujar Arsad Hidayat, Minggu 8 Februari 2026.
Ia menegaskan, di tengah derasnya arus informasi digital, kreator konten memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi keagamaan secara benar. Pemahaman yang utuh mengenai hisab dan rukyat dinilai menjadi kunci agar informasi yang beredar tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat.
Melalui program ini, peserta tidak hanya dikenalkan pada hasil penetapan awal bulan Hijriah, tetapi juga memahami proses ilmiah di baliknya, mulai dari konsep hilal, parameter astronomis, hingga mekanisme pengambilan keputusan pemerintah. Pendekatan edukasi, simulasi, dan visualisasi pengamatan hilal juga diberikan, termasuk pengenalan instrumen rukyat serta teknik penyampaian informasi falak secara sederhana namun akurat.
Upaya penguatan literasi hilal sejalan dengan mekanisme penetapan awal Ramadan yang selama ini dilakukan pemerintah melalui perpaduan metode hisab dan rukyat dalam sidang isbat agar hasilnya ilmiah, transparan, dan dapat diterima bersama.
Program ini digelar secara hybrid. Sebanyak 30 peserta dengan jumlah pengikut terbanyak akan diundang mengikuti kegiatan secara luring di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama, Jakarta Pusat, sementara hingga 1.000 peserta dari masyarakat umum dapat mengikuti secara daring.
Kementerian Agama berharap peserta program dapat menjadi mitra strategis dalam menyebarkan literasi keislaman berbasis ilmu pengetahuan sehingga masyarakat memperoleh pemahaman yang utuh dan proporsional terkait penetapan awal Ramadan.











