Humaniora

Jawab Ketertinggalan SDM Lokal, Maluku Utara Gandeng UGM

Avatar
×

Jawab Ketertinggalan SDM Lokal, Maluku Utara Gandeng UGM

Sebarkan artikel ini
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda. [Foto: Humas UGM]

Byklik.com | Yogyakarta – Untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia di daerah, Pemerintah Provinsi Maluku Utara menjalin kerja sama strategis dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). Penandatanganan nota kesepahaman antara dilakukan di Kampus UGM, Jumat 9 Januari 2026.

Rektor UGM Prof. Ova Emilia menyebut Maluku Utara sebagai wilayah yang sejak lama menjadi perhatian UGM, khususnya melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN).

“Saat ini, sebanyak 18 kelompok mahasiswa UGM ditempatkan di sejumlah wilayah kepulauan, seperti Obi, Morotai Selatan, Pulau Kiri, dan Pulau Rau,” katanya.

Wakil Rektor UGM Dr. Danang Sri Hadmoko menambahkan, Maluku Utara merupakan salah satu daerah prioritas pelaksanaan KKN dan riset terapan UGM. Ia menilai ruang kolaborasi riset di sektor pertanian, kelautan, dan industri masih terbuka luas, terutama untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berdampak langsung pada masyarakat.

Baca Juga  Polda Aceh Kumpulkan Darah 168 Kantong dalam Bakti Kesehatan

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengakui bahwa provinsinya mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi nasional, mencapai 39 persen, namun belum bersifat inklusif.

Dari sekitar 100 ribu tenaga kerja yang terserap di kawasan industri Halmahera Tengah, pekerja lokal baru berkisar 30 ribu orang. Kondisi ini menunjukkan kesenjangan serius antara ekspansi industri dan kapasitas sumber daya manusia lokal.

“Kehadiran mahasiswa UGM memberi manfaat nyata dan meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat,” ungkap Sherly Tjoanda.

Baca Juga  Polwan Rosita Rahayu, Simbol Kedamaian di Ujung Senapan yang Mereda

Sherly menegaskan, kerja sama dengan UGM diharapkan mampu menjawab tantangan tersebut, termasuk dalam pengembangan hilirisasi nikel dan industri baterai kendaraan listrik. Dengan kontribusi sekitar 50 persen produksi nikel nasional, Maluku Utara memiliki posisi strategis, namun berisiko hanya menjadi lokasi eksploitasi jika tidak disertai penguatan pendidikan dan riset.

Selain sektor industri, Sherly juga menyoroti ketergantungan daerah terhadap pasokan pangan dari luar yang mencapai 80 persen. Ia menilai, tanpa intervensi kebijakan dan pendampingan berbasis riset, peluang ekonomi bagi petani, nelayan, dan pelaku UMKM lokal akan terus terpinggirkan di tengah pesatnya industrialisasi.