Byklik | Bireuen—Warga Gampong Balee Panah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, masih menjalani proses pemulihan pascabanjir yang melanda wilayah mereka. Selain dampak sosial dan ekonomi, warga menyoroti persoalan lingkungan yang dinilai turut berkontribusi terhadap terjadinya bencana.
Isu tersebut mengemuka dalam pertemuan Yayasan Perempuan Anak dan Negeri (YPANBA) bersama Pemerintah Gampong Balee Panah, Selasa (7/1/2025), di sela persiapan peletakan batu pertama pembangunan tiga unit rumah bantuan bagi warga terdampak di Dusun Kayee Jato.
Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan pelaksanaan program pemulihan pascabencana berbasis masyarakat, dengan fokus pada pendampingan perempuan dan penguatan kesadaran lingkungan.
Keuchik Balee Panah, Muntazar, SE, menyampaikan bahwa banjir menjadi pengingat penting akan perlunya menjaga keseimbangan lingkungan.
“Pemulihan pascabanjir tidak cukup hanya membangun kembali rumah warga, tetapi juga harus disertai upaya menjaga lingkungan agar kejadian serupa tidak terus berulang,” ujarnya.
Ia juga menekankan peran strategis perempuan dalam proses pemulihan keluarga dan komunitas.
Sementara itu, Desy Setiawaty, Staf Program YPANBA, menyampaikan bahwa pendekatan pemulihan yang dilakukan YPANBA tidak hanya berfokus pada bantuan darurat, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat.
“Kami melihat perempuan penyintas memiliki pengalaman dan pengetahuan penting dalam menghadapi bencana. Pendampingan ini bertujuan memperkuat peran mereka sebagai agen pemulihan sekaligus penjaga lingkungan di tingkat keluarga dan komunitas,” jelasnya.
Warga menilai banjir tidak semata disebabkan curah hujan tinggi, tetapi juga dipengaruhi perubahan kondisi lingkungan, termasuk penebangan hutan dan perluasan kebun sawit yang mengurangi daya dukung alam serta meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.
Hasil pemantauan lapangan menunjukkan kondisi posko pengungsian masih belum layak, dengan keterbatasan akses air bersih, sanitasi yang tidak memadai, serta minimnya ruang privasi bagi perempuan dan anak.
Dari sisi ekonomi, banjir menyebabkan terhentinya sumber penghidupan warga, khususnya perempuan yang sebelumnya bergantung pada usaha kecil seperti produksi kue, berkebun, dan bekerja di kilang kayu.
Melalui pendekatan pemulihan yang mengintegrasikan isu lingkungan, YPANBA berharap masyarakat tidak hanya pulih dari dampak banjir, tetapi juga semakin sadar akan pentingnya perlindungan lingkungan guna mengurangi risiko bencana di masa depan.[]











