Byklik.com | Takengon – Fenomena hujan es disertai angin kencang melanda sejumlah desa di Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah, Sabtu, 4 April 2026 sore. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 16.00 hingga 17.00 WIB ini mengejutkan warga, terutama para petani kopi yang tengah beraktivitas di kebun.
Tokoh masyarakat setempat, Tgk. H. Masi Rinang, mengatakan saat kejadian dirinya bersama Drs. H. Hamdan dan keluarga besar Tgk. Irwansyah tengah memetik kopi di Desa Merah Muyang.
“Kami bersama keluarga dan para pekerja sedang di kebun, tiba-tiba hujan es turun dan berlangsung kurang lebih satu jam,” ujarnya.
Hujan es tersebut dilaporkan merusak tanaman warga. Sejumlah daun tanaman, termasuk pohon kemiri dan tanaman lain, rontok akibat cuaca ekstrem. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran para petani terkait potensi penurunan hasil panen kopi yang saat ini memasuki masa panen raya.
“Kami berharap hujan es ini tidak berdampak signifikan terhadap kualitas maupun jumlah produksi kopi. Semoga panen tahun ini tetap terjaga,” tambahnya.
Tak hanya sektor pertanian yang terdampak, hujan es juga merusak sejumlah rumah warga. Atap rumah berbahan spandek mengalami kerusakan akibat hantaman butiran es berukuran cukup besar.
Aulia, warga Desa Merah Mege, mengatakan intensitas hujan es kali ini lebih tinggi dibanding kejadian sebelumnya.
“Hujan es berlangsung sekitar satu jam dengan ukuran butiran yang cukup besar,” ujarnya. Ia menambahkan, beberapa warga bahkan sempat mengumpulkan butiran es yang jatuh hingga hampir memenuhi satu ember besar.
Menurut warga, fenomena hujan es memang pernah terjadi di wilayah tersebut. Namun, kejadian kali ini merupakan yang pertama pada tahun 2026 dengan intensitas yang tergolong tinggi.
Sementara itu, dikutip dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu, 5 April 2026, hujan es adalah fenomena alamiah yang umum terjadi, terutama pada masa peralihan musim (pancaroba) atau saat kondisi cuaca ekstrem.
BMKG menjelaskan, hujan es dipicu oleh terbentuknya awan cumulonimbus, awan tinggi dengan suhu sangat dingin yang memungkinkan uap air membeku menjadi butiran es sebelum jatuh ke permukaan bumi. Kondisi atmosfer yang tidak stabil, khususnya pada masa pancaroba, mempercepat pembentukan awan tersebut.
Selain itu, faktor geografis wilayah dataran tinggi seperti Aceh Tengah membuat butiran es tidak sepenuhnya mencair saat mencapai tanah. Fenomena ini umumnya bersifat lokal, berdurasi singkat, dan kerap disertai hujan lebat serta angin kencang.
BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama saat muncul awan gelap tebal. Warga disarankan segera berteduh di bangunan yang kokoh untuk menghindari risiko cedera.
Peristiwa ini menjadi perhatian masyarakat luas, mengingat Aceh Tengah merupakan salah satu sentra produksi kopi Gayo unggulan yang menjadi kebanggaan daerah.***











