Berita UtamaEkonomi & Bisnis

Gayo Setie Masih Terisolasi, Warga Desak Pembukaan Akses

×

Gayo Setie Masih Terisolasi, Warga Desak Pembukaan Akses

Sebarkan artikel ini

Byklik | Redelong–Pascabencana ekologis yang melanda 18 kabupaten di Aceh, kerusakan infrastruktur dan krisis kemanusiaan masih dirasakan oleh masyarakat di sejumlah wilayah terdampak. Ribuan warga tidak hanya membutuhkan bantuan logistik pangan dan layanan kesehatan, tetapi juga dukungan untuk pemulihan ekonomi agar dapat kembali melanjutkan kehidupan secara mandiri.

Yayasan Perempuan dan Anak Negeri Banda Aceh (YPANBA) berkolaborasi dengan AWPF, Koalisi NGO HAM, yang didukung oleh Komunitas Quaker Australia dan para donatur lainnya, menyalurkan bantuan berupa paket sembako dan kebutuhan pertanian kepada 18 kepala keluarga di Desa Gayo Setie.

Penerima manfaat terdiri atas 13 kepala keluarga perempuan, 2 lansia, serta 3 kepala keluarga yang kebunnya terdampak longsor pada 18 November 2025 lalu. Bantuan pertanian yang diberikan berupa pupuk kompos, benih (cabai merah & rawit), dan mulsa.

Ketua YPANBA, Ruwaida, menyampaikan bahwa hingga saat ini, Desa Gayo Setie di Kecamatan Gajah Putih, Kabupaten Bener Meriah masih berada dalam kondisi terisolir. Akses menuju desa hanya dapat dilalui kendaraan roda dua karena jembatan penghubung yang putus belum diperbaiki.

Baca Juga  Indonesia-Tiongkok Sepakati Kerja Sama Sektor Pariwisata

“Akses adalah kebutuhan paling mendesak dalam situasi tanggap darurat. Tanpa akses, pemenuhan hak dasar masyarakat akan terhambat dan proses pemulihan ekonomi menjadi sangat sulit,” ungkap Ruwaida saat kegiatan distribusi bantuan, Selasa, 24 Februari 2026.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh Nur Cahayawati, Koordinator Relawan Posko Gajah Putih. Ia menjelaskan bahwa sejak bencana terjadi, warga berupaya bertahan secara mandiri.

“Kami bergotong royong membersihkan material longsor dan memperbaiki jembatan secara swadaya agar bisa dilalui sepeda motor. Kami tidak sanggup menunggu bantuan yang tidak kunjung tiba. Kami ingin keluar dari isolasi,” ujarnya.

Desa Gayo Setie dihuni oleh 104 KK (405 jiwa) yang mayoritas menggantungkan hidup dari hasil kopi, cabai, dan tanaman hortikultura. Longsor yang terjadi telah menghancurkan sebagian besar kebun warga sehingga sumber penghidupan mereka terhenti.

Dalam situasi ini, kepala keluarga perempuan menghadapi kerentanan berlapis karena harus menopang kebutuhan keluarga dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas.

Baca Juga  Menkes Resmikan Puskesmas Lokop, Layanan Kesehatan Pulih

Perempuan kepala keluarga penerima bantuan peralatan bertani.

YPANBA bersama Koalisi NGO HAM menyerukan kepada pemerintah untuk segera membuka akses infrastruktur menuju Desa Gayo Setie. Kerusakan jalan dan jembatan tidak hanya menghambat distribusi bantuan dan aktivitas ekonomi. Namun, juga meningkatkan risiko keselamatan warga, terutama bagi perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas yang harus mengakses layanan kesehatan dan layanan dasar lainnya di luar desa.

Adapun Direktur Koalisi NGO HAM, Khairil Arista, menegaskan bahwa kehadiran negara sangat dibutuhkan dalam situasi ini.

“Putusnya akses jalan membuat masyarakat tidak dapat menjual hasil kebun yang tersisa maupun memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi ini sangat memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serta langkah cepat dari pemerintah,” tegasnya.

Kolaborasi kemanusiaan yang dilakukan berbagai pihak merupakan bentuk solidaritas untuk memastikan masyarakat terdampak tetap mendapatkan dukungan. Namun demikian, pembukaan akses infrastruktur menjadi kunci utama bagi pemulihan yang berkelanjutan dan bermartabat bagi warga Gayo Setie.[]